Miris Tokoh Pemuda Luwu Timur Sebut Pimpinan Gagal Turunkan Angka Kemiskinan

Diterbitkan oleh Admin pada Jumat, 2 Februari 2024 21:06 WIB dengan kategori Daerah Headline dan sudah 397 kali ditampilkan

Makassar - Badan Pusat Statistik (BPS) Kab Luwu Timur melalui website resminya meliris bahwa per tanggal 28 desember 2023, angka kemiskinan meningkat pada tahun 2023 yakni di angka 6,93 persen 21,57 (ribu jiwa) atau naik 0,12 persen dibanding tahun 2022 6,81 persen 20,89 (ribu jiwa) dari total jumlah penduduk. 

Kenaikan angka kemiskinan tersebut  menurut Ryan Latief, kepada terkininews.com, Jum'at (2/2/2024) sangat signifikan terlihat dari fluktuasi jumlah kemiskinan dalam priode 2017-2023 dan bentuk kegagalan seorang pemimpin dalam memajukan daerahnya.

Sebagai tokoh pemuda Luwu timur Ryan mengaku sangat miris dengan meningkatnya jumlah angka kemiskinan di kabupaten sebagai penghasil Nikel jenis mate terbesar di dunia yang masuk dalam provinsi Sulawesi Selatan.

"Sungguh miris setelah melihat data BPS terkait angka kemiskinan, Apalagi luwu timur adalah penghasil pad dan penghasil sumber daya alam tertinggi setelah Makassar ini kegagalan total bagi kepala daerah dan tidak layak dilanjutkan," ucap Direktur Eksekutif LBH LIRA Sulsel ini.

Dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, Indonesia memiliki tambang nikel seluas 520.877,07 hektare (ha). Tambang tersebut tersebar di tujuh provinsi, antara lain Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Sulawesi Tenggara memiliki tambang nikel terbesar di Indonesia dengan luas mencapai 198.624,66 ha. Salah satu tambang nikel yang dapat ditemui di provinsi tersebut berada di Kabupaten Konawe dengan luas 21.100 ha. Setelahnya ada Sulawesi Tengah dengan tambang nikel seluas 115.397,37 ha. 

Kemudian, tambang nikel yang berada di Sulawesi Selatan sebesar 198.624,66 ha.
Papua juga memiliki tambang nikel seluas 16.470 ha. Di Papua Barat, terdapat tambang nikel seluas 22.636 ha.

Dia melanjutkan, seharusnya pihak pemerintah berperan aktif untuk berkolaborasi perusahaan yang beroperasi di wilayah Lutim dengan memperkerjakan masyarakat sebagai karyawan agar dapat meningkatkan taraf hidup dan menekan angka kemiskinan serta mengurangi ketimpangan di masyarakat.

" Kalau saya sebagai pemerintah, pasti akan berkoordinasi untuk mewajibkan semua perusahaan yang beroperasi di Luwu Timur untuk merekrut masyarakat asli sebagai karyawan dalam payung hukum yang jelas," tutur Ryan 

Selain itu tokoh pemuda yang juga pengusaha nasional ini menegaskan komitmennya guna menekan angka kemiskinan yakni dengan membuka pusat pelatihan tenaga kerja siap pakai sesuai dengan potensi kekayaan alam yang dimiliki Luwu Timur.

"Disinilah pentingnya mengedepankan kearifanlokal (local genius) dan membantu pelaku usaha lokal agar terkoneksi dengan pelaku usaha nasional untuk go internasional tidak terfokus pada sektor pertambangan saja potensi alam lain dari Luwu Timur adalah pertanian pariwisata dan Perikanan laut dan tambak dan tentu dengan kerja semua stakeholder di Kab Lutim," jelasnya

" nanti saya akan buka pusat pelatihan untuk menciptakan tenaga karja siap pakai serta meningkatkan UMKM di Luwu Timur dan menjadikan Luwu Timur sebagai kawasan ekonomi khusus Sulawesi Selatan," tutup Ryan Latief. (**)