Reposisi Profesi Guru

Diterbitkan oleh Redaksi pada Ahad, 18 April 2010 00:00 WIB dengan kategori Opini dan sudah 785 kali ditampilkan

SEBUAH pengalaman menarik saya ingin saya ketengahkan kepada pembaca. Yakni, sebuah pengalaman pribadi ketika saya baru diangkat jadi calon pegawai negeri sipil awal tahun 2005 lalu.
Mereposisi Profesi Guru SEBUAH pengalaman menarik saya ingin saya ketengahkan kepada pembaca. Yakni, sebuah pengalaman pribadi ketika saya baru diangkat jadi calon pegawai negeri sipil awal tahun 2005 lalu.

Untuk sebuah keperluan, saya diperintahkan atasan saya menemui seorang pejabat penting di daerah tempat saya mengajar. Saat berjumpa denganya, saya mengucapkan salam kepada sang pejabat yang saat itu sedang sibuk menandatangani surat-surat di atas meja kerjanya. Beliau menjawab sekenanya tanpa mengangkat kepala. Jantung saya langsung berdetak menghadapi kenyataan ini.

Setelah selesai dengan surat-surat yang ditandatanganinya, barulah sang pejabat yang terkesan arogan itu mengangkat kepala dan mempersilakan saya duduk di kursi kosong di depannya. Beliau menanyakan keperluan saya. Saya mencatat ada tatapan dingin dan sikap arogan yang dipertontonkannya kepada saya. Saya mendengar rupanya kejadian serupa juga sering dialami oleh rekan-rekan saya sesama guru jika berurusan dengan kalangan birokrasi. Kata-kata saudara dari mana? Bapak lagi sibuk atau ada tamu dan sebagainya sering kali terdengar jika seorang guru mau berurusan. Maaf, ini adalah realitas yang perlu saya sampaikan apa adanya tanpa harus ditutupi.

Sebelum menjadi guru, selama beberapa tahun saya pernah berkecimpung di dunia swasta. Dan, seingat saya perlakuan seperti itu belum pernah saya alami - karena di berbagai perusahaan tempat saya bekerja, pimpinannya selalu memperlakukan karyawan sebagai sebuah aset yang berharga. Setelah peristiwa itu, saya sering mengamati rekan-rekan saya ketika datang menjumpai pejabat harus menunduk atau terbungkuk-bungkuk untuk mendapatkan sebuah pelayanan dari kalangan birokrasi. Akan tetapi ketika ada rekanan atau kontraktor yang datang, pelayanan yang mereka terima aduhai manisnya. Terkadang saya cemburu, tapi untuk apa? Tak ada gunanya juga jika mental pejabat selalu ingin dilayani dan tak mau melayani. Iya kan?

Saya