Pahlawan Nasional 2025: Saat Indonesia Melihat Masa Lalu Secara Utuh

Diterbitkan oleh Redaksi pada Selasa, 11 November 2025 06:36 WIB dengan kategori Editorial dan sudah 246 kali ditampilkan

EDITORIAL - TERKININEWS.COM - Penganugerahan sepuluh gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada Hari Pahlawan 2025 bukan sekadar seremoni kenegaraan yang penuh haru, melainkan sebuah keputusan sejarah yang penting dan strategis bagi arah kedewasaan bangsa Indonesia. Penetapan ini adalah momentum ketika negara mulai berani melakukan pembacaan sejarah secara lebih utuh, lebih jernih, bukan hanya berdasarkan rasa nyaman kelompok tertentu atau memori emosional yang terfragmentasi.

Komposisi nama-nama pahlawan tahun ini menggambarkan mozaik perjalanan Indonesia yang kompleks. Ada Gus Dur sebagai simbol keberanian moral dan demokrasi, ada Marsinah sebagai ikon perlawanan rakyat kecil terhadap ketidakadilan, ada tokoh ulama besar, tokoh pendidikan, tokoh diplomasi nasional, dan juga terdapat Soeharto serta Sarwo Edhie, dua figur yang selama puluhan tahun menjadi sumber perdebatan serta kontroversi panjang dalam historiografi negeri ini. Di titik inilah kedewasaan bangsa diuji: bahwa pahlawan bukan manusia sempurna tanpa cela, melainkan manusia yang kontribusinya bagi bangsa diakui, meski catatan sejarah lain tetap boleh dikritisi dan dibaca secara objektif.

Bangsa ini tidak boleh terus hidup dalam kepungan trauma masa lalu. Kita tidak bisa selamanya menilai masa lalu hanya dengan perspektif politik hari ini. Indonesia harus mampu naik kelas dalam cara membaca sejarah, yaitu dengan mengakui bahwa perjalanan bangsa ini ditempa oleh banyak kutub pemikiran, banyak ide, banyak jalur perjuangan dan banyak peran yang saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Negara sudah melangkah ke arah itu: memotret sejarah secara utuh, bukan sepotong-sepotong.

Sekarang giliran masyarakat untuk mampu menyambut langkah ini dengan kedewasaan pikiran. Penganugerahan ini harus menjadi energi moral baru agar generasi mendatang memahami sejarah bangsanya secara matang, obyektif, tidak simplistik, dan tidak mudah terperangkap pada polarisasi lama. Sebab bangsa yang tidak mampu berdamai dengan sejarahnya sendiri, akan terus terpenjara oleh sejarah itu. Hari ini negara membuka pintu pendewasaan itu. Tinggal apakah kita berani melangkah melewatinya.