Ikhlas Kunci Segalanya

Diterbitkan oleh pada Jumat, 26 Juni 2009 00:00 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.460 kali ditampilkan

Ada dua syarat yang diterima amal perbuatan atau ibadah yang kita kerjakan selama hidup di dunia ini. Pertama, pekerjaam atau perbuatan itu dilakukan denga ilmu pengetahuan yang mengacu pada Alquran dan hadis.
Ada dua syarat yang diterima amal perbuatan atau ibadah yang kita kerjakan selama hidup di dunia ini. Pertama, pekerjaam atau perbuatan itu dilakukan denga ilmu pengetahuan yang mengacu pada Alquran dan hadis.

Kedua, adalah dengan niat yang tulus ikhlas dalam rangka mendapatkan ridho dari Allah SWT. Ini juga bermakna, segala sesuatu itu tergantung daripada niat. Fungsi niat itu adalah sebagai pembeda. Maksudnya, membedakan antara suatu amalan dan yang lainnya. Perbedaan lainnya adalah membedakan antara nilai-nilai ibadah dan lainnya.

Fenomena yang dapat dirasakan saat ini adalah masyarakat kapitalisme yang bekerja atau berbuat selalu menghitung untung dan ruginya tanpa pernah berpikir apa yang akan Allah SWT berikan ketika seseorang tersebut melakukan segala jenis pekerjaan diniatkan hanya untuk Allah SWT. Subhanallah, tentunya seseorang tersebut mendapatkan dua kenikmatan dan pahala yang diberikan oleh sang pencipta dunia beserta isinya Allah azza wa jalla. Tentunya, kita tidak menginginkan hidup kita menjadi sia-sia.

Seperti yang diungkapkan Rasulullah SAW yang sangat menekankan tentang ikhlas dan niat dalam sabdanya, "Sesungguhnya setiap perbuatan(1) tergantung niatnya(2). Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya (3) karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan," (HR. Bukhari-Muslim).

Dari hadis ini dapatlah kita petik bahwa Allah SWT akan memberikan imbalan sesuai dengan apa yang kita niatkan. Alangkah mulianya kita ketika kita mampu mendaratkan hati ini untuk berniat dalam segala aktifitas kita hanya untuk Allah SWT. Terlalu murah kalau kita mengerjakan sesuatu hanya karena wanita, kekayaan dan hal yang sifatnya dunia yang menggelapkan mata saja. Dalam kesehariannya, kita juga dapat melihat orang-orang yang suka dengan popularitas dan harta yang takkah dibawa mati itu.

Lalu bagaimanakah ciri-ciri orang ikhlas itu? Jawaban dari pertanyaan ini sekaligus merupakan penutup untuk catatan ini. Orang-orang mukhlis itu semestinya memiliki indikator antara lain. Pertama, khawatir tentang amalnya. Kedua, khawatir dengan ketenaran. Ketiga, tetap beramal walaupun sendirian. Keempat, tidak malas dan jenuh serta putus asa dalam beramal. Kelima, tidak mementingkan status dan kedudukan.