Pemerintah Pertimbangkan Tambah Operator SLI
Pemerintah mengkaji, kemungkinan menambah jumlah operator telekomunikasi penyedia layanan Sambungan Langsung Internasional (SLI).
"Kajian komprehensif sedang dilakukan. Saat ini dua operator sudah memasukkan proposal untuk memperoleh kode akses SLI," kata Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Iwan Krisnandi, di Jakarta, Senin.
Dua operator telekomunikasi yang mengajukan proposal kepada Kementerian Komunikasi dan Kominfo adalah PT XL Axiata Tbk (XL) dan PT Natrindo Telepon Seluler (NTS).
Menurut Iwan, jika hanya dua perusahaan yang mengajukan minat menyelenggarakan layanan panggilan internasional tersebut maka kemungkinan proses pemberian lisensi hanya berdasarkan evaluasi bukan tender.
"Jika peserta sedikit tentunya evaluasi saja. Tetapi akan diberikan standar pemenuhan pembangunan infrastruktur atau layanan minimal sama dengan pemenang tender sebelumnya yaitu PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL)," ujar Iwan.
Ia berpendapat, peluang terbesar bagi pemain yang akan mendapatkan kode akses SLI adalah pelaku usaha yang bisa membangun infrastruktur dan memiliki jumlah pelanggan dalam jumlah besar..
"Kita akan lihat juga tujuan penggunaan kode akses itu, apakah melayani pelanggan dengan jumlah besar atau tidak," katanya.
Menurut catatan, operator seluler XL memiliki sekitar 31,4 juta pelanggan, yang didukung 18.790 unit base transceiver station (BTS).
Operator ini juga memiliki jaringan serat optik baik di kawasan Indonesia Timur dan Barat untuk persiapan membangun Sentra Gerbang Internasional (SGI), sebagai infrastruktur layanan SLI.
Sedangkan NTS hanya memiliki sekitar 6 juta pelanggan dengan 3.700 BTS.
Operator Axis ini untuk memperluas layanannya memanfaatkan jasa roaming nasional dengan memanfaatkan jaringan milik XL di Sumatera.
Saat ini layanan SLI diberikan kepada Telkom dengan kode akses 007, Indosat (001 dan 008), serta Bakrie Telecom (009).
Telkom memiliki pelanggan paling besar yaitu sekitar 100 juta nomor (seluler dan fixed), diikuti Indosat sekitar 40 juta (fixed dan seluler), serta Bakrie Telecom 10,5 juta fixed. (ant/cax)
sumber:www.terkininews.com

