Belajar dari Kegagalan UN
Senin (26/04/10) hasil kelulusan UN untuk tingkat SMA se-derajat telah diumumkan. Secara nasional, terdapat 150 ribu siswa SMA yang tidak lulus.
Senin (26/04/10) hasil kelulusan UN untuk tingkat SMA se-derajat telah diumumkan. Secara nasional, terdapat 150 ribu siswa SMA yang tidak lulus. Kepada media cetak maupun elektronik Mendiknas, Muhammad Nuh mengatakan peserta UN dari peserta UN 1.522.162 siswa SMA/MA peserta UN yang tidak lulus berjumlah 150.079 siswa dan harus mengikuti ujian susulan. Kendati mengalami kenaikan kelulusan dari 7,25 persen tahun lalu menjadi 7,29 persen, penulis menganggap ini bukanlah suatu prestasi, tetapi harus menjadi agenda evaluasi total terkait masalah pendidikan di Indonesia dengan belajar dari kegagalan UN.
Seperti kisah-kisah sebelumnya, di seluruh penjuru Indonesia cukup banyak siswa-siswi yang dibikin frustasi oleh kebijakan / penentuan kelulusan UN. Bahkan ada juga yang gagal meraih mimpinya karena gagal UN. Kisah ini cukup banyak dan bisa ditemukan di setiap daerah. Tidak hanya tahun ini, tapi di tahun sebelumnya juga ada dan akan terus ada menurut penulis jika kebijakan ini terus dipertahankan.
Berangkat dari keprihatinan di atas, penulis mencoba menggali dan memikirkan apa-apa saja pelajaran atau hikmah yang dapat dipetik dari gagalnya sebagian siswa-siswi Indonesia di UN ini. Pertama, UN telah menghabiskan anggaran yang cukup besar namun tidak berkorelasi kuat dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Dengan kata lain, belum ada perubahan dan perkembangan yang begitu signifikan ketika kita membicarakan masalah pendidikan di Indonesia.
Kedua, UN telah mengajarkan siswa-siswi untuk berpikir pragmatis dan tidak jujur.
Terbukti, berdasarkan laporan Tim Pemantau Independent (TPI) yang mendapatkan amanah untuk memantau UN telah banyak ditemukan pelanggaran-pelanggaran dalam pelaksanaan UN baik peserta UN maupun sekolah yang bersangkutan. Dengan UN, para siswa terpaksa menghalalkan segala cara untuk lulus daripada jujur tapi tidak lulus, lebih baik tidak jujur tapi lulus. Itulah kira-kira apa yang ada di benak peserta UN.
Ketiga, pemborosan anggaran. Cukup banyak perangkat-perangkat yang harus dibentuk melalui penerapan UN ini, tetapi hasilnya juga tidak begitu maksimal dan dalih proses tidak bisa diterima begitu saja terkait masalah UN ini. Sekali lagi penulis tegaskan, UN tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia apalagi hasilnya tidak di evaluasi secara menyeluruh.
Keempat, gagalnya sebagian siswa-siswi di UN khususnya yang terjadi di daerah telah membuktikan tidak meratanya kualitas pendidikan baik ditinjau dari sarana-prasarana maupun hal-hal lain antara pemerintah pusat dan daerah. Antara pendidikan di daerah pedesaan dan perkotaan. Kelima, UN telah mengubah orientasi pendidikan dari orientasi proses ke orientasi hasil. Dengan dalih memenuhi standarisasi internasional yang jelas angkanya jauh lebih tinggi dari angka rata-rata kelulusan di Indonesia.
Belajar dari kegagaln UN ini maka secara sederhana penulis hanya bisa berpendapat dan memberikan masukan. Pertama, perlu reformasi atau revolusi total terhadap sistem pendidikan nasional. Tentunya pendidikan di Indonesia harus berorientasikan proses bukan berorientasikan hasil, selain itu juga pendidikan di Indonesia juga harus mengarah kepada pendidikan yang mengajarkan kejujuran bukan mendidik bahkan menjauhkan peserta didik dari kejujuran.
Kedua, ke depan perlu ada peningkatan sarana dan prasarana di sekolah-sekolah khususnya di daerah hinterland dan fokus terhadap sekolah-sekolah yang tingkat kelulusanya relatif rendah. Mungkin itulah gagasan sederhananya, tetapi secara menyeluruh tetap saja diperlukan evaluasi total UN dan pelaksanaan pendidikan di Indonesia karena pada prinsipnya sebab apapun pelaksanaan atau kebijakan yang dikeluarkan haruslah bermuara pada peningkatan kualitas pendidikan. Akan tetapi, pada kenyataannya selama ini tidak demikian.
Hasil UN di Kepri, PR untuk Cagubkepri
Hasil UN tahun 2010 ini, tingkat kelulusan di Kepulauan Riau mencapai 84,13 persen atau 11.224 dari 13.341 siswa atau peserta UN. Artinya, 15,87 persen siswa atau peserta UN yang tidak lulus. Sedangkan di tahun 2009, tingkat kelulusan Kepulauan Riau mencapai 83,14 perse siswa atau peserta UN tingkat SMA dari total 11.573 siswa yang lulus dan artinya terdapat sekitar 2000 lebih siswa yang tak lulus. Merekalah korban dari kebijakan pendidikan yang zalim. Zalim karena telah menghambat kesuksesan (menggagalkan) beberapa siswa yang mungkin telah mendapat jaminan untuk sekolah di luar daerah bahkan di negeri tetangga karena gagal pada salah satu mata pelajaran yang di UN-kan.
Kita tidak sekedar membicarakan angka-angka, tetapi dalam konteks kedaerah khususnya propinsi Kepulauan Riau haruslah di cari formula khusus untuk memajukan pendidikan di propinsi yang lahir dengan perjuangan yang berdarah-darah ini. Apalagi sekarang tengah musim Pemilukada (terlepas dari isi diundur atau terus dilanjutkan karena ada tuntutan dari KRPB), ini merupakan PR untuk Cagubkepri.
Artinya tidak sekedar meningkatkan angka kelulusan sebab telah penulis sebutkan masalah pendidikan khususnya di Kepulauan Riau begitu kompleks. Artinya, nasib pendidikan di Kepulauan Riau harus menjadi perhatian semua pasaganan Cagubkepri apalagi pasangan calon yang terpilih nanti. Dengan kata lain, hasil UN di Kepulauan Riau telah memberikan gambaran bahwa pendidikan di Kepri belumlah seperti apa yang diharapkan. Perlu adanya pemerataan pembangunan sarana-prasarana pendidikan antar kabupaten dan kota yang ada di Kepulauan Riau, tidak hanya sekedar pembangunan fisik tetapi juga pembangunan SDM yang berada di lingkaran pendidikan juga harus menjadi pusat perhatian.
Untuk seluruh Cagubkepri, lupakanlah membangun dan menjanjikan konsep-konsep yang sifatnya normatif, tetapi mulailah berpikir PR yang akan dihadapi ketika terpilih cukup banyak salah satu yang paling utama adalah PR pendidikan dan pembangunan SDM di Kepulauan Riau harus menjadi perhatian. Terakhir, penulis hanya bisa berdoa agar Kepri dipimpin oleh orang-orang yang peduli dengan pendidikan karena hanya dengan pendidikanlah Kepulauan Riau bisa maju. Ini harus menjadi prioritas utama dan selamat bertarung secara sehat kepada seluruh tim sukses dan pasangan Cagubkepr. Wassalam.
Pemred Terkininews.com

