Mengulas Kemenangan Sementara Duo HMS
Hasil penghitungan cepat yang ditayangkan salah satu televisi swasta nasional menempatkan pasangan nomor urut dua, Dua HMS yang meraih 38,1 persen suara dan tentunya sekaligus sebagai pemenang dalam pesta demokrasi lokal bernama Pemilu Kada Gubernur Kepu
Hasil penghitungan cepat yang ditayangkan salah satu televisi swasta nasional menempatkan pasangan nomor urut dua, Dua HMS yang meraih 38,1 persen suara dan tentunya sekaligus sebagai pemenang dalam pesta demokrasi lokal bernama Pemilu Kada Gubernur Kepulauan Riau Rabu (26/05/10) disusul pasangan Aida dan Eddy Wijaya hanya memperoleh 31,44 persen dan pasangan Nyat Kadir dengan Zulbahri memperoleh 30,51 persen suara.
Menarik sebenarnya untuk mengulas hasil penghitungan cepat ini apalagi menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan bagi pasangan Duo HMS, pasangan yang diusung oleh PDI-P, Hanura, PKNU dan PPIB ini jika dihitung di atas kertas jelas pasangan yang tidak dijagokan menang karena jika dilihat dari kekuatan suara dan kursi partai pendukung Dua HMS tidaklah sebesar pasangan Aida Berjaya dan NKRI.
Ini membuktikan, hasil atau perolehan suara partai politik tidak berbanding lurus dengan perolehan suara pasangan calon. Semuanya tergantung pada figuritas dan modal politik yang kuat. Inilah yang dimiliki oleh Dua HMS.
Figur H. M. Sani yang sudah mengakar di masyarakat Kepri dengan pengalaman birokrasinya selama puluhan tahun telah membuat dirinya dikenal oleh berbagai lintas generasi, belum lagi posisinya yang begitu menguntungkan sebagai Wagubkepri. Pengalamannya memenangkan Pilkada 2005 (walau hanya sebagai orang nomor dua) tentunya dia punya banyak pengalaman dan strategi pemenangan yang secara sadar atau tidak telah dijalaninya bersama Ismeth Abdullah, Gubkepri yang saat ini sedang menjalani proses hukum karena diduga kuat melakukan korupsi pengadaan Damkar.
Selain itu, dirinya juga memiliki modal politik yang cukup kuat. Modal politik yang penulis maksudkan tidak serta merta berhubungan dengan masalah duit, tetapi ada faktor lain yang menyebabkan mengapa suara pemilih cenderung untuk memilihnya. Adalah modal dukungan. Dukungan PDI-P dan dipilihnya Soeryo Respationo menjadi wakilnya cukup besar pengaruhnya.
PDI-P punya basis massa yang fanatik, sehingga suara massa PDI-P tidak akan lari dari perpaduan pasangan birokrat-politisi ini. Sementara itu, pasangan H. M. Sani, H. M. Soeryo Respationo yang punya basis massa pendukung di Batam cukup memberikan kontribusi suara bagi pasangan ini.
Selain itu, H. M. Sani juga pintar dalam merangkul tokoh masyarakat Kepulauan Riau dan dengan cepat mengambil langkah untuk 'meminang' Huzrin Hood agar mendukungnya karena Huzrin dinilai punya basis massa akar rumput yang cukup jelas dan cukup banyak sehingga membuat massa pendukungnya agar mendukungnya. Jelas secara emosional, Huzrin Hood lebih senang mendukung H. M. Sani karena sama-sama sekampung.
Di samping itu, suara Dua HMS juga merata di setiap daerah karena di bandingkan dua pasangan calon lainnya pasangan inilah yang cukup proaktif melakukan silaturahim politiknya ke berbagai daerah kabupaten / kota di Kepulauan Riau.
Selain itu, pasangan ini juga diuntungkan dengan tingkat Golput yang cukup tinggi di Batam, walau jumlah DPT di Batam cukup tinggi dan mampu mengalahkan seluruh daerah, tetapi kalau banyak yang tidak menggunakan hak pilihnya tentunya sama saja. Mimpi Aida Berjaya dan NKRI yang cenderung terkonsentrasi di wilayah metropolis ini memang langkah yang tepat, tetapi faktanya berkata lain.
Ini hanyalah ulasan sederhana yang dibuat dalam waktu singkat, tentunya tidak bermaksud untuk mengakui hasil hitung cepat sebab semua pasangan calon masih memiliki peluang kemenangan yang sama pasca Pemilu Kada 26 Mei 2010 ini dan di closing kelak nantinya dengan Ketua KPU Kepulauan Riau, Den Yealta melalui rekapitulasi suara dan hasil rapat pleno dari masing-masing kabupaten dan kota yang ada.

