Pudarnya Pesona Pancasila

Diterbitkan oleh pada Selasa, 1 Juni 2010 00:00 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.294 kali ditampilkan

Tepat pada 1 Juni 2010 kita memperingati hari lahir Pancasila. Sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila kini dianggap telah pudar pesoanya karena jujur diakui bangsa ini mulai melupakan sejarah masa lalunya.
Tepat pada 1 Juni 2010 kita memperingati hari lahir Pancasila. Sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila kini dianggap telah pudar pesoanya karena jujur diakui bangsa ini mulai melupakan sejarah masa lalunya. Minimnya institusi baik pemerintah maupun non-pemerintah bahkan boleh dikatakan nyaris tidak ada yang menggelar kegiatan dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila tentunya menimbulkan tanda tanya apakah kita masih mempercayai bahwa Pancasila adalah sebuah ideologi atau bisa jadi perasaan itu tetap ada hanya saja saat ini perasaan itu sudah mulai memudar. Dikaitkan dengan sejarah pada Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia Merdeka, yang dinamakannya Pancasila. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai.

Selanjutnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno itu. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakir, HA Salim, Achmad Soebardjo dan Muhammad Yamin) yang bertugas : Merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen itu sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia (www.untag-sby.ac.id).

Hasil jajak pendapat Suratkabar Nasional Kompas Selasa (30/9) tentang penerapan atau aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Hasilnya, cukup mengejutkan karena telah timbul keraguan dibenak masyarakat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai pandangan hidup. Ini dicerminkan dengan cukup banyaknya orang yang lupa dengan sila-sila yang terkandung dalam Pancasila.

Padahal, entah sadar atau tidak pada 1 Oktober 2008 bangsa ini juga selalu memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang merupakan titik awal indoktrinisasi Pancasila yang dilakukan oleh orde baru yang selama 32 tahun belum dirasakan pemaknaannya oleh masyarakat karena ada keberagaman dan perluasan paham-paham dan sekte-sekte yang menggerogoti pemahaman masyarakat sehingga masyarakat seperti tidak peduli lagi dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Faktor yang lainnya adalah ketidakmampuan pemerintah dalam memenuhi dan mewujudkan nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan kepada masyarakat setelah 63 tahun merdeka. Hal ini dicerminkan oleh jajak pendapat yang dilakukan Harian Kompas. Sebanyak 79,8 persen masyarakat menilai pemerintah belum mampu menunjukkan sikap adil kepada masyarakat.

Sebanyak 860 responden di sepuluh kota besar di Indonesia (Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang, Pontianak, Banjarmasin, Makassar, Manado dan Jayapura) cukup banyak yang lupa dan hafal dengan sila-sila yang terkandung dalam Pancasila apalagi ditanya soal makna yang terkandung di dalam sila-sila tersebut. Kalau boleh jujur, mungkin penulis termasuk orang yang hafal, tetapi belum tentu menerapkan dan memahami sepenuhnya nilai-nilai Pancasila karena semenjak era orde baru mulai gamang, nyaris tidak adalagi pewarisan budaya tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Penasaran dengan hasil jajak pendapat Harian Kompas? Baik, akan penulis paparkan secara runut. Saat responden ditanya tentang sila pertama yang mampu membacanya hanya sebanyak 90,8 persen yang hafal. Kemudian ditanya tentang sila kedua, hanya 72, 1 persen yang hafal. Begitu juga dengan sila-sila berikutnya. Pada sila ke-3 terdapat 23,8 persen yang tidak hafal. Sila ke-4 30,2 persen yang mengaku tidak hafal karena memang dilihat dari struktur kata-katanya sila yang keempat mempunyai kalimat yang relatif panjang dibandingkan dengan sila-sila yang lainnya. Sedangkan pada sila ke-5 hanya 70,8 persen yang mengaku hafal dengan sila yang berbunyi,