Kebangkitan Gurindam di Kota Gurindam

Diterbitkan oleh Redaksi pada Rabu, 16 Juni 2010 00:00 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.942 kali ditampilkan

Kota Tanjungpinang Kota Gurindam Negeri Pantun. Itulah nama salah satu kota di Provinsi Kepulauan Riau. Dilihat dari slogan kota ini, maka dapat kita lihat, ruh sastra hidup di kota ini.
Kota Tanjungpinang Kota Gurindam Negeri Pantun. Itulah nama salah satu kota di Provinsi Kepulauan Riau. Dilihat dari slogan kota ini, maka dapat kita lihat, ruh sastra hidup di kota ini. Karena lihat saja, slogan saja diambil dari nama bentuk karya sastra yaitu gurindam dan pantun. Memang secara realita. Sastra memang sangat hidup di kota ini. Baik pantun, puisi, dan juga gurindam. Karya sastra pantun hidup sebagai sebuah tradisi lisan yg sering diucapkan oleh sebagian penduduk Kota Tanjungpinang dan juga sering digunakan dalam sambutan kepala daerah dan para pejabat daerah. Karya sastra puisi juga demikian, banyak sastrawan besar yang lahir di Kota Tanjungpinang seperti Ibu H. Suryatati A. Manan yang juga Walikota Tanjungpinang, Huznizar Hood, Tusiran Suseno, Teja Al Habd, Abdul Kadir Ibrahim, dan masih banyak sederetan nama penyair di Kota ini. Perkembangan dan kehidupan karya sastra pantun dan puisi sangat berkembang di Kota Tanjungpinang.

Namun bila kita kaji secara mendalam, ada sebuah karya sastra yang mengalami stagnasi dalam perkembangannya. Yaitu Gurindam. Gurindam yang pernah lahir di bumi Melayu Kota Tanjungpinang yaitu Gurindam Dua Belas Gubahan Raja Ali Haji. Gurindam ini di ciptakan oleh Raja Ali Haji yang merupakan cucu dari Raja Haji Fisabilillah pada tahun 1846 Masehi. Ketika itu Raja Ali Haji berumur 38 Tahun. Bila dilihat dari tahun dihasilkannya gurindam, maka sudah 164 tahun Gurindam Dua Belas itu hidup dan melanglang buana ke pelosok bumi mana pun, dan selama ini belum ada Gurindam lain yang begitu menonjol selain Gurindam Dua Belas. Hal ini berimpas kepada stagnasi hidupnya karya sastra ini. Karya sastra dengan genre Gurindam mengalami kehambatan dalam penciptaannya dimasa kini.

Hal ini berakibat pada kepahaman kepada masyarakat. Masyarakat mengartikan bahwa gurindam adalah Gurindam Dua Belas. Padahal, Gurindam Dua Belas hanyanya salah satu judul dari karya sastra gurindam. Sebagian masyarakat juga mengartikan bahwa gurindam adalah tradmarknya Raja Ali Haji, sehingga orang lain merasa segan untuk menghasilkan gurindam lain.

Dalam sastra menjelaskan bahwa gurindam adalah salah satu bentuk karya sastra puisi lama yang berasal dari tamil ( India ) yang terdiri dari dua baris dengan persajakan a, a. dimana baris pertama dan kedua adalah memiliki kaitan satu sama lainnya. Hubungannya adalah sebab akibat, baris pertama biasanya merupakan sebab, serta baris kedua merupakan akibat yang menerangkan baris pertama. Gurindam juga bias dibuat dalam beberapa pasal, perihal atau pun bab.

Dari penjelasan diatas, maka setiap orang sebenarnya memiliki hak untuk membuat gurindam kembali asalkan tidak terlepas dari aturan sastarawi gurindam. Seseorang yang menulis gurindam maka dia bukan berarti meniru atau menjiplak Gurindam Dua Belas Gubahan Raja Ali Haji, melainkan dia berusaha melanjutkan kembali perkembangan gurindam dimasa kini. Beberapa waktu yang lalu, beberapa seniman dan SMA Negeri 2 Tanjungpinang membuat perlombaan membuat gurindam. Hal ini merupakan salah satu langkah untuk menghidupkan kembali kepenulisan gurindam setelah Gurindam yang di tulis oleh Raja Ali Haji.

Pada kesempatan ini, kami sebagai penulis yang terbilang masih seumur jagung, mencoba membangkitkan kembali gurindam yang merupakan karya sastra klasik, namun ianya hidup dimasa kini. Dengan menghasilkan karya sastra bergenre Gurindam. Tujuan kami, bukanlah ingin melawan petua kami yaitu Raja Ali Haji, ataupun menjiplak Gurindam Dua Belas. Namun kami ingin menciptakan gurindam yang lain. Dengan judul Gurindam Mutiara Hidup. Hal ini juga dimaksudkan agar kehidupan karya sastra gurindam tak mengalami stagnasi dan harus berhenti pada Gurindam Dua Belas saja, melainkan akan muncul dan hidup kembali gurindam-gurindam lainnya.

Karena gurindam adalah karya sastra yang butuh kehidupan di tengah hiruk pikuk kehidupan karya sastra modern. Gurindam Mutiara Hidup mencoba menjadi pioneer dalam kebangkitan kembali karya sastra gurindam di Kota Gurindam ini.

Gurindam Mutiara Hidup tidaklah menggunakan pasal seperti Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji, namun ianya menggunakan perihal yang terdiri dari beberapa perihal mengenai pepatah petitih tentang kehidupan yang sifatnya didaktif sehingga ia dinamakan Gurindam Mutiara Hidup. Harapan kami, Gurindam Mutiara Hidup akan bias di sejajarkan dengan Gurindam Dua Belas. Dan menjadi kunci lahirnya gurindam lainnya di masa kini.

*)Penulis Buku Gurindam Mutiara Hidup dan Pemecah Rekor MURI Berbalas Pantun Terlama Selama 6 Jam Tanpa Henti di Taman Ismail Marzuki Jakarta )