Sistem Manual Pemilu Rentan Kecurangan di Banding IT.

Diterbitkan oleh Redaksi pada Sabtu, 10 Juli 2010 00:00 WIB dengan kategori Nasional dan sudah 1.016 kali ditampilkan

BATAM - Direktur Utama Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Terpadu (LP3T) Nurul Fikri, Rusmanto mengungkapkan bahwa sistem pengiriman data secara manual pada proses pemilihan umum di Indonesia saat ini sangat rentan kecurangan.
BATAM - Direktur Utama Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Terpadu (LP3T) Nurul Fikri, Rusmanto mengungkapkan bahwa sistem pengiriman data secara manual pada proses pemilihan umum di Indonesia saat ini sangat rentan kecurangan. Dibandingkan dengan pengiriman data secara online, dimana data dapat dikirim secara langsung dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) langsung ke server Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat di Jakarta.

"Jadi jarak itu sudah tidak perlu di permasalahkan lagi sebenarnya jika kita menginginkan proses demokrasi yang benar-benar jujur dan adil," kata Rusmanto menjelaskan.

Disebutkannya, dalam sistem manual, kertas surat suara diangkut secara fisik di Indonesia dan mengakibatkan pengiriman yang bersifat estafet atau berjenjang, sehingga sangat lambat tiba di Jakarta. Dengan begitu, Rusmanto memastikan upaya manipulasi atau jual beli suara dapat terjadi secara cepat.

Proses pengiriman yang sangat berjenjang mulai dari tingkat TPS, Kelurahan, Kecamatan, KAbupaten/Kota baru masuk ke Provinsi yang masih digunakan hingga saat ini diyakini tidak akan memperbaiki iklim demokrasi di Indonesia yang diharapkan.

Oleh karenanya, Rusmanto berharap pelaksanaan pemilihan umum apapun menggunakan tekonolofi informasi (TI) yang telah dikembangkan dan di coba dengan berhasil oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan India.

"Nama alat itu Elektronic Voting Machine (EVM) dan sangat berguna sebagai alat bantu dalam mempercepat penghitungan serta mengurangi potensi kecurangan," katanya lagi.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWIR), Rumbadi Dalle mengaku agenda UNESCO dan LP3T NF untuk mengulas potensi kecurangan pemilu menggunakan IT ini merupakan masukan penting bagi wartawan dalam melaksanakan kegiatan peliputan pemilihan umum, agar tidak mudah percaya terhadap upaya publish dari berbagai pihak yang berkepentingan tanpa melakukan riset terhadap persoalan , guna hasil informasi yang berimbang serta mampu memberikan pemahaman yang positif bagi masyarakat yang membaca nya.

Rumbadi juga berpesan kepada seluruh wartawan di Provinsi kepri agar bersikap kritis dalam memuat hasil pemilu yang telah menggunakan IT, karena dikhawatirkan bisa berpotensi menyebarluaskan kebohongan kepada publik.

"Hati-hati dan kritis dalam menerima masukan dari berbagai kepentingan. Jangan sampai kita (Media) justru berperan dalam penyebar luasan hasil manipulasi, bila perlu kita bongkar kebohongannya," tegas Rumbadi.