TI Langkah Taktis Meminimalisir Kecurangan Pemilu

Diterbitkan oleh Shofi pada Sabtu, 10 Juli 2010 00:00 WIB dengan kategori Kepri Terkini dan sudah 990 kali ditampilkan

BATAM - Penggunaan teknologi informasi (TI) dalam pelaksanaan Pemilu atau Pemilukada ke depan sangat diharapkan karena penggunaan TI jauh relatif lebih murah dan mampu meminimalisir kecurangan yang terjadi dalam Pemilu manual.
BATAM - Penggunaan teknologi informasi (TI) dalam pelaksanaan Pemilu atau Pemilukada ke depan sangat diharapkan karena penggunaan TI jauh relatif lebih murah dan mampu meminimalisir kecurangan yang terjadi dalam Pemilu manual.

Demikian ungkap Rusmanto Maryanto pengurus Yayasan Nurul Fikri yang menjadi narasumber dalam diskusi bersama media di Hotel Nagoya Plaza, Sabtu (10/07/11). Menurutnya dalam pemilihan manual cukup banyak ditemukan terjadi kecurangan seperti jual beli suara.

Kendati demikian, dia juga tidak menampik sistem Pemilu dengan sistem TI juga rawan kecurangan, tetapi menurutnya tingkat kecurangan jauh lebih kecil daripada menggunakan sistem Pemilu yang manual.

"Ya kita menganggap tingkat kecurangan TI jauh lebih kecil dan bisa diantisipasi dibandingkan dengan sistem Pemilu manual," katanya. Dia mencontohkan di India untuk satu TPS memakan biaya Rp 2 jt untuk 3800 pemilih, tetapi di Indonesia untuk satu TPS memakan biaya Rp 18 jt hanya untuk 400 pemilih.

"Dari sisi anggaran tentu ini jauh lebih murah dan dibandingkan dengan sistem Pemilu yang manual," tambahnya. Saat ini, Pemilu dengan menggunakan sistem TI masih baru dilaksanakan pada Pilkades di Kabupaten Jembrana untuk di tingkat yang lebih tinggi Indonesia masih belum siap.