Mempertahankan Budaya Komunitas Adat Wilayah Perbatasan
Jumat (23/07/10) bersama beberapa budayawan, akademisi lokal, LSM dan mahasiswa. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film menggelar Dialog Budaya di Hotel BBR Tanjungpinang.
Jumat (23/07/10) bersama beberapa budayawan, akademisi lokal, LSM dan mahasiswa. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film menggelar Dialog Budaya di Hotel BBR Tanjungpinang. Dari dialog yang berlangsung selama sehari itu ada beberapa hal yang penulis ingin sampaikan bahwa tradisi dan nilai-nilai budaya yang ada di wilayah perbatasan seperti propinsi Kepulauan Riau ini patutlah untuk dijaga dan dilestarikan.
Apalagi ditengah tantangan zaman dan globalisasi yang begitu menggurita. Pergeseran-pergeseran moral budaya Melayu begitu tampak nyata. Ada empat topik dalam dialog tersebut yang menurut penulis semuanya saling bersinggungan dan bermuara pada mempertahankan budaya Melayu yang dihadapi dengan tantangan atau realitas kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan pemerintah daerah dalam upaya menjaga dan melestarikannya.
Mengapa tidak budaya lain? Karena memang Melayu-lah yang sebenarnya memegang peranan penting dalam mewujudkan peradaban dunia dan Indonesia. Rasanya penulis tidak sedang dalam kondisi yang berlebihan menyebutkan hal ini walau ada pemateri terlalu

