Saham Telkom Tertinggal, Tapi Masih Menarik
Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), perusahaan telekomunikasi terkemuka di Indonesia direkomendasikan beli dengan target harga Rp10.050.
Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), perusahaan telekomunikasi terkemuka di Indonesia direkomendasikan beli dengan target harga Rp10.050.
Menurut Arief Budiman, analis PT Phillip Securities Indonesia, target harga tersebut mencerminkan price to earning ratio (PER) dan enterprise value (EV)/EBITDA 2011 sebesar 15,2 kali dan 5,1 kali yang mendekati rata-rata valuasinya untuk lima tahun terakhir.
"Kami meyakini prospek industri seluler Indonesia masih bagus. Apalagi, perseroan memiliki neraca yang kuat dan profitabilitas yang cukup tinggi," ujarnya kepada VIVAnews di Jakarta, Jumat 30 Juli 2010.
Arief memperkirakan, investor mulai mencari saham yang tertinggal kinerjanya pada saat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah naik tinggi. Pemodal kemungkinan mulai melihat saham Telkom karena bobotnya nomor kedua terbesar di komponen IHSG.
Dia menjelaskan, prospek industri telekomunikasi masih cukup menarik, khususnya sub-sektor seluler. "Pelanggan seluler Indonesia diperkirakan tumbuh sekitar 12 persen per tahun dari 2010-2012 menjadi 239 juta orang," ujarnya.
Arief mengindenfikasi faktor-faktor berikut ini sebagai pendorong utama naiknya jumlah pelanggan:
1) Tingkat penetrasi yang masih rendah.
2) Kenaikan pendapatan perkapita dan makin murahnya biaya seluler.
3) Konsolidasi industri.
4) Elastisitas harga yang cukup tinggi.
Selain industri telekomunikasi yang cukup menarik, Arief mengakui rekomendasi beli juga ditunjang faktor-faktor keunggulan Telkom seperti memiliki portofolio bisnis yang lengkap dan menarik, diuntungkan kenaikan jumlah pengguna seluler, dan memiliki neraca yang kuat dengan profitabilitas tinggi.
"Kami menetapkan target harga akhir tahun untuk TLKM sebesar Rp10.050 yang dihitung berdasarkan metode DCF (discounted cash flow) dengan mengasumsikan rata-rata biaya modal tertimbang (WACC) sebesar 12,2 persen dan pertumbuhan jangka panjang lima persen," kata dia.
Pada target harga tersebut, menurut Arief, TLKM akan diperdagangkan pada PER dan EV/EBITA 2011 masing-masing 15,5 kali dan 5,1 kali yang mendekati rata-rata historikal selama lima tahun yaitu 15,2 kali dan 5,6 kali.
Kendati demikian, dia mengakui ada sejumlah faktor risiko terhadap estimasi kinerja dan rekomendasi beli terhadap saham Telkom seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi yang bisa memperburuk prospek industri telekomunikasi.
Faktor lainnya adalah makin meningkatnya persaingan tarif antara operator, perubahaan dalam regulasi, serta kompetisi internal antara Flexi dan Telkomsel di daerah tertentu.

