Essay Tentang Manusia-manusia Kecil

Diterbitkan oleh Redaksi pada Kamis, 12 Agustus 2010 00:00 WIB dengan kategori Opini dan sudah 2.081 kali ditampilkan

Kemungkinan hidup bagi manusia adalah kecil, dalam arti untuk mampu mencapai taraf hidup yang sesuai dengan yang di harapkannya dan di cita citakannya.
Kemungkinan hidup bagi manusia adalah kecil, dalam arti untuk mampu mencapai taraf hidup yang sesuai dengan yang di harapkannya dan di cita citakannya. Karena selain hidup itu adalah sebuah perjalanan misteri yang tidak akan pernah kita duga duga, di tambah lagi dengan kondisi Negara yang system nya hiruk pikuk.

Semua manusia yang terlahir ke dunia ini adalah fitrah (suci), hanya saja kan diantara kita tidak akan ada yang tahu pasti kesinambungan hari esok nya, walaupun kita sudah pasang beribu peramal yang tinggal ketik reg spasi ramal, itu sudah pasti tidak akan mungkin mampu menjadikan manusia yang untuk hidup sesuai dengan yang kita harapkan.

Sebagai manusia kita pasti sedikit banyaknya hanya menemukan kegagalan dan ketidak puasan dalam hidup kita, kecuali bagi orang orang suci yang memang hanya mengkontribusikan seluruh hidupnya di jalan Tuhannya, atau hanya orang orang yang sangat bersungguh sungguh dalam usahanya dan orang orang yang kebetulan beruntung sajalah yang memang dapat meraih cita cita dan harapannya.

Dalam sebuah tatanan Negara yang kita hidupi ini dengan pajak yang setiap sudut kita bayar tapi tidak pernah kita rasakan dampak positifnya, maka akan semakin terjauhlah kita dari harapan dan cita cita yang kita idam idamkan itu. Sebab nilai moral yang ada dalam negeri yang kita harapkan mampu mensejahterakan hidup kita dengan pemilihan kepala Negara atau kepala daerah yang secara langsung ini, telah menjebak kita untuk hidup dalam angan angan kosong yang penuh janji di balik muslihat, makanya moral itu menjadi bobrok ya hanya karena kita sebagai rakyat yang senang disuguhi makan dan minum dari kekuatan sumpah dan janji palsu pemimpinnya.

Taraf hidup seperti apalagi yang ingin kita capai jika kita hidup dalam sebuah negeri yang dikelola oleh manusia manusia yang tidak punya jiwa, dimana setiap tatanan hidup manusia itu ada yang namanya system dan hukum,tetapi yang kita temui pada kenyataannya adalah bukan manusia itu yang ikut dalam system atau mematuhi hukum, akan tetapi system dan hukum itu yang mereka buat jadi mengikuti kehendak mereka, makanya sangat wajar saja setiap anak yang terlahir di negeri ini begitu lahir sudah di bebani hutang luar negeri yang di kalungkan di lehernya, dimana hutang tersebut harus dia bayar tanpa pernah dia rasakan uangnya.

Namun bukan berarti hal ini menyurutkan langkah kita untuk mencapai taraf hidup seperti yang kita cita citakan, jangan karena hal tersbut membuat kita malah menjadi manusia yang mudah putus asa dan jadi bunuh diri karena kita jadi kaum apatis yang bodoh dan terjebak dalam prasangka kita yang cetek, kita juga harus berani bertahan hidup serta memperjuangkan hak hidup kita serta meneruskan cita cita dan harapan para leluhur kita yang sudah gugur sebagai suhada, walaupun sebenarnya kita hidup diantara bom waktu yang berbentuk tabung 3 kilogram yang katanya adalah subsidi positif guna efisiensi bahan bakar, padahal karena kita di bohongi dan pada tidak mengerti kalau sebenarnya minyak tanah yang menjadi langka dan mahal di Negara penghasil minyak ketiga terbesar di dunia ini, adalah kalau minyak tanah itu di jual ke luar negeri maka keuntungannya lebih besar dari pada di jual di dalam negeri,yang keuntungannya kita memang dianggap tidak perlu tahu, sama halnya dengan kisah century, yang sampai sekarang kita memang tidak tahu kemana uangnya dan siapa pelakunya, yang kita tahu adalah uang nasabah century yang sampai sekarang belum di bayarkan, ya tidak jauh berbeda juga dengan legenda lumpur lapindo, yang waktu awal kejadian lumpur yang keluar bukan langsung diantisipasi, tapi dijadikan tontonan rakyat seperti pasar malam yang akhirnya jadi sangat lumayan yang terwujud benar benar menjadi tontonan buat kisah paling sedih dan tragis kalau diangkat menjadi sebuah filem epic oleh sutradara film Hollywood.

Dengan demikian pun kita tidak seharusnya kehilangan semangat hidup hanya karena guyonan maut para penguasa tersebut yang sebenarnya sungguh dzalim, kita juga tahu kalau hal itu hanya segelintir dari cobaan perjalanan hidup negeri kita, yang memang semestinya kita harus tetap kuat mempertahankan persatuan dan kesatuan negeri ini, yang sudah sangat banyak kehilangan hasil karya budayanya di klaim bangsa tetangga, kita memang tetap harus tegar menghadapi ujian demi ujian ini, karena kita kan bangsa yang berlatar belakang agama dan nilai keluhuran budaya yang tinggi, walaupun kita sebenarnya sudah sangat terpelajar sejak zaman dahulu kala dengan bukti sejarah candi candi yang di tinggalkan oleh moyang kita, dan kita memang bangsa yang pintar dan cerdas hanya saja beberapa abad belakangan ini bangsa kita memang kurang suka membaca, sehingga kejadian besar dalam krisis moneter sekalipun tidak membuat kita jera dengan candaan pasar global yang menyengsarakan, padahal tadinya konsep ekonomi kita bebas aktif dimana kita tidak ikut blok barat ataupun timur, tapi ya itu tadi, kita itu memang sudah sangat terpelajar, sehingga bencana seperti krisis moneter dan tsunami aceh serta gempa jogja bukan masalah besar bagi bangsa seperti kita ini.

Banyak kejadian besar di negeri kita tercinta ini yang berakhir seperti siulan gelandangan yang kehilangan kesempatan hidupnya, hanya karena kita kurang mampu untuk berintrospeksi diri dengan mau menerima suara hati kita sendiri, kita lebih kenyang dengan suara orang bule yang dalam filem nya menampilkan ke glamoran hidup, kita lebih bangga dengan tayangan televisi kabel yang mengajak kita untuk menjadi bangsa yang konsumtif, sehingga pemerintah menyatakan dengan bangga bahwa terjadi peningkatan devisa Negara beberapa persen belakangan ini dari nilai konsumsi masyarakat Indonesia yang hidup sebagai kaum konsumtif, bukannya bangga dengan devisa Negara yang seharusnya meningkat dari daya produksi rakyatnya, hal seperti itukan seharusnya sangat memalukan untuk di bicarakan oleh kaum yang mengaku intelektual tetapi hidup dengan mental lintah darat yang suka membalikkan logika masyarakat, sehingga rakyat jelata merasa puas dengan ketidak fahamannya terhadap situasi keuangan Negara yang sebenarnya sudah harus dinyatakan pailit alias bangkrut.

Pada dasarnya kita tidak perlu kuatir dengan kondisi bangsa kita ini, kita tetap harus berjuang mencerdaskan generasi muda untuk lebih terpelajar, sehingga kelak akan menjadi cendikiawan cendikiawan arif dan bijaksana yang mampu mengembalikan nilai moral dan kualitas umat Indonesia kepada semangat membangun bangsanya guna mencapai bangsa yang tercerahkan di mata dunia, walaupun kita harus berjalan terseok seok diantara tekanan politik internasional yang cukup banyak menyorot bangsa kita yang termasuk penghasil koruptor terbesar di dunia serta penghasil komoditi sumber daya teroris yang tidak pernah jelas kenapa tiba tiba beritanya sudah pada di tembak mati, sementara koruptor yang kejahatannya lebih berdampak global hingga sampai menembus alam mental masih enak enakkan bergelayutan di dalam gedung kantor yang di bangun dengan keringat rakyat.

Demikianpun halnya yang terjadi di Negara kita ini kita tidak perlu terlalu merasa sedih dan menghiba hiba, kita harus bangkit dari keterpurukan ini, kita harus tetap konsisten membela kebenaran yang hakiki, biarkan saja orang orang tidak bertanggung jawab itu menemui ajalnya sendiri di tangan Tuhan, kita tetap harus terus maju memperjuangkan masa depan anak cucu kita dengan perspektif yang jujur dan adil, kita biarkan saja penguasa atau pejabat korup itu mati dengan sendirinya menemui ajalnya di jalan setan, yang terpenting adalah bagi kita tetap setia dengan kata hati kita yang terilhami oleh nilai nilai iman dan kemanusiaan yang luhur guna mengembalikan kejayaan kita sebagai bangsa yang merdeka, kita tidak usah cemaskan para maling uang rakyat itu yang kerjanya hanya menyengsarakan rakyat dengan bahasa sekolahan mereka yang mereka layangkan di selebaran selebaran kertas dan spanduk kampanye mereka dengan slogan slogan yang menggiurkan, toh sebenarnya bantuan langsung tunai itu justru membuat rakyat tambah dungu dan pemalas, yang katanya mereka mau berpihak pada usaha mikro dengan kredit tanpa agunan yang tetap saja harus pakai agunan, dan ada juga sekelumit kisah yang mengatakan bahwa ayo kita awasi dana pendidikan yang masih terbilang tidak ada buktinya, atau selentingan kabar yang menceritakan bahwasanya kita hidup diatas untaian zamrud khatulistiwa tetapi rakyat tidak pernah dapat undangan makan gratis dari para pejabat atau penguasa Negara yang sampai buncit perutnya kekenyangan makan uang rakyat.

Sudahlah, kita hanya butuh sedikit air dingin yang di taruh dalam sebuah wadah kaleng dan selembar kain tipis yang bersih untuk mengkompres kepala kita yang panas dan berdenyut karena kita memang harus hidup dengan kondisi ekonomi yang tersudutkan di ujung lidah penguasa dan pejabat dungu yang serakah.

Serta segelas air putih sejuk untuk menghilangkan dahaga kita yang sangat haus karena terlalu capek teriak teriak orasi yang tidak akan di dengar waktu berdemonstrasi di depan kantor kantor pemerintahan yang pagarnya terkunci rapat yang di bangun oleh derita rakyat yang di jaga ketat oleh barisan satpol pp yang juga sebenarnya terjebak antara ambigu nurani dan isi perut mereka yang memang makan seadanya juga.