Nelayan Marah, Kapal Tanker Terlalu Dekat

Diterbitkan oleh pada Rabu, 22 September 2010 00:00 WIB dengan kategori Nasional dan sudah 981 kali ditampilkan

LINGGA - Ratusan nelayan yang berasal dari desa Penuba dan desa Tanjung Dua resah dengan keberadaan kapal tanker pengangkut hasil tambang bauksit dan batu besi milik PT. Telaga Bintan Jaya dan PT. Lepan Jaya yang berada pada lokasi tempat nelayan m
LINGGA - Ratusan nelayan yang berasal dari desa Penuba dan desa Tanjung Dua resah dengan keberadaan kapal tanker pengangkut hasil tambang bauksit dan batu besi milik PT. Telaga Bintan Jaya dan PT. Lepan Jaya yang berada pada lokasi tempat nelayan menangkap ikan.

Ratusan nelayan ini pergi melapor kekantor kepala desa Penuba perihal tidak adanya konfirmasi pihak terkait terhadap keberadaan kapal tanker yang sudah memasuki areal nelayan menangkap ikan. Kapal tanker yang ada sebanyak 3 buah dan 1 buah itu terlalu dekat dengan areal masyarakat menangkap ikan jelas kepala desa Penuba Dwi Abdi kepada terkininews.com.

Kepala kantor Pelabuhan Dabosingkep Syaiful Huri ketika dikonfirmasi menuturkan " kami sudah meletakkan titik koordinatnya berdasarkan aturan yang ada, karena ini menyangkut dengan keselamatan kapal juga. Kita telah mengkaji dulu tentang letak titik koordinat labuh kapal, baik dari kedalaman maupun pasang surut" jelas Syaiful kepada terkininews.com melalui telpon selulernya.

Sekarang kami sudah berkoordinasi dengan pihak shipper dan agen tentang adanya masyarakat yang komplain terhadap labuh kapal yang mengganggu masyarakat nelayan tradisional dan semoga segera bisa diatasi, apalagi ini untuk kepentingan kita bersama,ungkap Syaiful.

Drs.Zakaria anggota DPRD Lingga yang memang berdomisili di Penuba juga angkat bicara kalau memang tadi banyak nelayan yang mengadu, bahwa ada kapal tanker yang letak labunya berada pada areal nelayan biasa menangkap ikan dan kita akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait ungkap Zakaria.

"Saya akan segera membuat surat kepada pihak-pihak yang terkait perihal labuh kapal yang menggangu masyarakat nelayan kami ini", tambah Dwi Abdi kepala desa Penuba.***