Petani Karet Kuba Keluhkan Naiknya BBM di Musim Hujan

Diterbitkan oleh pada Kamis, 20 November 2014 19:36 WIB dengan kategori Karimun dan sudah 2.916 kali ditampilkan

KARIMUN - Pasca kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp.2.000,- sejumlah masyarakat di Kundur Barat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani karet, mulai merasakan dampaknya.

 

Kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo yang menaikkan harga bahan bakar minyak jenis bensin dari Rp.6.500,- menjadi Rp.8.500,- dan jenis solar dari Rp.5.500,- menjadi Rp.7.500,- ini dirasakan mulai memberatkan mereka. Para petani tersebut menilai kebijakan tersebut membuat kebutuhan hidup mereka menjadi sulit terpenuhi, karena harga-harga kebutuhan pokok juga turut melonjak naik seiring naiknya harga BBM.

 

''Musim hujan begini untuk menyadap karet saja Kami susah, harga jual saja kadang-kadang naik turun, jadi untuk kendaraan, bahan-bahan, dan transportasi hasil karet Kami juga naik semua'', ujar Taufik salah satu penyadap karet di Kundur Barat.

 

Berdasarkan informasi, harga jual karet per-kilonya hanya Rp.6.500,-. Dengan musim penghujan yang saat ini sudah tiba di wilayah pulau Kundur, belum ditambah lagi dengan harga kebutuhan pokok yang melonjak naik seiring naiknya harga BBM, menjadikan para petani karet mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hariannya.

 

Para petani ini berharap agar pemerintah mempertimbangkan kembali dampak kenaikan BBM yang semakin menjerat masyarakat kalangan bawah. Mereka juga mengharapkan apabila kebijakan ini tetap,akan ada program-program pemerintah yang benar-benar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

 

''Karena BBM naik,pasti harga obat karet juga naik,belum lagi yang lain. Kami petani karet tambah susah bang. Semoga Pak Jokowi menepati janjinya untuk pro rakyat'', ujar Taufik. (harja)