Sembako Naik 5-10 Persen Pasca Kenaikan Harga BBM Subsidi
“Dari hasil sidak kita di sini, sembako rata-rata naik 5-10 persen. Dan daya beli masyarakat sudah menurun,” kata Asisten Ekonomi Pembangunan Pemerintah Kota Batam, Syuzairi, saat sidak di Pasar Botania Batam Centre, Selasa (2/12).
Namun yang menjadi masalah saat ini, kata Syuzairi, ada beberapa distributor yang sudah terlebih dulu mengantisipasi kenaikan harga BBM dengan menaikkan harga jual sembako. Dan setelah harga BBM subsidi resmi dinaikkan, distributor kembali menaikkan harga sembako. Hal ini membuat harga sembako seperti gula, minyak goreng, dan beras mengalami dua kali kenaikan.
“Pemerintah akan memanggil distributor rapat, untuk menyamakan persepsi. Jangan sampai ada kesan spekulan bermain pasca kenaikan BBM bersubsidi ini,” kata Syuzairi.
Di lain sisi, menurut Syuzairi, harga sayur-sayuran cenderung stabil. Artinya tidak ada pengaruh kenaikan harga BBM dengan kenaikan harga sayur. Karena harga sayur lebih terpengaruh oleh ketersediaan stok. Bila stok dari Jawa atau Medan banyak maka harga turun, dan begitu sebaliknya.
Meski cenderung stabil, pemerintah bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah dan Bank Indonesia telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi. Satu di antaranya dengan meningkatkan pemberdayaan petani lokal di Batam.
“Saat ini di Sei Temiang dan Batuaji ada pilot project pertanian. Termasuk strategi ke depan, setiap rumah tangga akan diminta memanfaatkan lahan kosong untuk menanam cabai misalnya. Supaya jangan sampai ada kesan tanah di Batam yang banyak ini terbengkalai. Kita upayakan lahan kosong di Batam ini bisa dimanfaatkan jadi produktif,” katanya.
Selain antisipasi kenaikan harga sayuran, pemerintah juga akan memikirkan upaya agar harga daging tidak ikut naik seperti sembako lainnya. Karena hingga saat ini harga daging masih seperti sebelum kenaikan harga BBM subsidi.

