K13 Kurang Matang dan Butuh Persiapan

Diterbitkan oleh pada Selasa, 9 Desember 2014 14:04 WIB dengan kategori Karimun dan sudah 1.177 kali ditampilkan

KARIMUN - Instruksi Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah (Menbud Dikdasmen) Anies Baswedan untuk menghentikan pemberlakuan kurikulum 2013 disambut baik oleh guru-guru di Kabupaten Karimun.

 

Sebagaimana yang disampaikan oleh Menbud Dikdasmen pada Jum'at (5/12) lalu, bahwa pemerintah secara resmi menghentikan pemberlakuan kurikulum 2013 dan menginstruksikan untuk kembali ke kurikulum 2006. Selain itu menteri juga mengungkapkan akan mengirimkan surat resmi ke sekolah-sekolah.

 

Menanggapi hal tersebut, para guru di banyak wilayah di Indonesia menyambut gembira penghentian K13 tersebut, walaupun masih ada juga pihak yang kontra atas keputusan Menteri tersebut.

 

Salah seorang guru di SMA Negeri 1 Buru, Muslim menyatakan sepakat atas keputusan Anies tersebut. Ia mengatakan bahwa kurikulum 2013 agak terkesan dipaksakan karena kurang persiapan yang matang. "Saya sepakat dihentikan, namun sifatnya sementara. Masih butuh persiapan yang matang untuk pemberlakuannya di seluruh Indonesia", imbuhnya.

 

Lebih lanjut beliau mengatakan guru di sekolah-sekolah agak kelabakan dalam beradaptasi dengan kurikulum baru ini, terlebh lagi para guru di daerah. Karena banyak fasilitas yang masih kurang untuk mendukung pembelajaran dengan kurikulum 2013. "Jika dilihat dari sistem yang dibuat dalam K13 itu sangat bagus, tapi Saya rasa masih perlu dipersiapkan dulu. Contohnya buku saja, Kami baru mendapatkan ketika mau ujian. Padahal buku sebagai barang wajib untuk mengajar," tambahnya.

 

Ia juga menolak ketika dikatakan bahwa tidak ada usaha dari guru untuk mencari bahan mengajar. "Kami ini di daerah, bukan tidak usaha, tapi memang sulit dan memang tidak ada," tambah guru mata pelajaran Sejarah ini.

 

Ketika bicara komponen pendukung dalam penerapan kurikulum 2013 memang agak terkendala di daerah, terutama yang kondisi listriknya masih minim. Dan konektifitas jaringannya masih jauh dari cukup, sehingga  ini menjadi salah satu penghambat bagi guru dan siswa untuk menerapkan K13 sesuai yang diharapkan.

 

Bicara masalah beban guru yang kerap dibicarakan terkait masalah dalam kurikulum 2013, dia mengungkapkan pada umumnya masalah guru hanya pada aspek penilaian. "Setiap kita masuk kelas waktu itu habis untuk menilai anak satu per satu dalam kelas, sementara materi kita masih harus banyak yang kita kejar," tambah Beliau.

 

Harapan Muslim kepada pemerintah, agar lebih jeli dalam mengambil keputusan karena pendidikan merupakan kunci utama dan harapan bangsa. "Kami mohon jangan pendidikan dijadikan bahan percobaan, pendidikan adalah kunci utama dari negara." tandasnya. Selain itu Beliau juga menyinggung sedikit tentang kesenjangan antara guru yang masih terjadi. "Antara guru PNS dengan honor masih ada kesenjangan, kalau bisa itu dipangkas lah. Jadi tidak ada kecemburuan sosial di sekolah, hingga mengurangi motivasi." tuturnya di akhir wawancara. (Harja)