Rapor SD Tidak Berangka, Wali Murid Bingung

Diterbitkan oleh pada Rabu, 24 Desember 2014 20:47 WIB dengan kategori Karimun dan sudah 2.533 kali ditampilkan

KARIMUN - Walaupun sudah dihentikan penggunaannya, kurikulum 2013 tenyata masih menyisakan dilema bagi wali murid. Segelintir wali murid sekolah dasar di Kundur kebingungan terhadap isi laporan belajar anaknya yang tidak berisi angka.

 

Rapor kurikulum 2013 yang dibagikan oleh sekolah kepada wali murid di sekolah dasar ini, membuat mereka tidak memahami hasil pencapaian belajar anaknya selama di sekolah. Isi rapor peserta didik yang dibagikan oleh sekolah hanya berisikan penilaian secara authentic assessment. Pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa dibuat paparannya dalam narasi. Hal ini yang membuat isi rapor kurikulum 2013 hanya berisikan kalimat-kalimat dan tidak berisikan angka, karena nilai rapor siswa dalam kurikulum 2013 lebih bersifat normatif dan deskriptif.

 

Udin, salah seorang wali murid sekolah dasar di Kundur mengungkapkan bahwa ia bingung melihat isi rapor anaknya. "Isinya cuma kalimat, cukup, baik, sangat baik, itu saja." ujarnya.

 

"Seharusnya dua format lah, dengan angka juga kata-kata. Kami tidak mengerti soal kurikulum 2013 dan kurikulum lain. Yang kami tahu dari dulu kalau mau tau nilai anak ya angkanya, dia 5 temannya 6 berarti yang 5 itu lebih rendah dari 6." ujar Rudi salah seorang wali murid lainnya.

 

Salah seorang guru sekolah dasar Syaiful saat ditemui pasca pengambilan rapor menyatakan memang ada beberapa wali murid yang menanyakan mengenai format rapor kurikulum 2013. "Iya, ada beberapa orang tua yang bertanya. Kami sudah coba jelaskan ini memang petunjuk dari pusat, formatnya juga dari pusat, kami ikuti saja yang sudah ada. Memang penilaian dalam kurikulum 2013 ini deskriptif." ujarnya.

 

Lebih lanjut beliau menyatakan sistem penilaian yang ada kurikulum 2013 ini dilakukan tidak hanya dengan tes tetapi nontes seperti portofolio dan keterampilan. "Di SD memang tidak ada angka-angka, yang ada deskripsi, apa yang harus diperbaiki anak, disiplin anak, kehadiran, dan lain-lainnya semua dijelaskan lewat kalimat." tambah Syaiful.

 

Setelah dijelaskan beliau mengaku beberapa wali murid sudah memahami tentang isi rapor anaknya. "Malah ada wali murid yang bilang, bagus lah pak kita tidak pakai kurikulum ini lagi semester depan, bingung melihatnya." ujarnya sambil tersenyum. (Harja)