Naik-Turun BBM, Jangan rugikan Mahasiswa

Diterbitkan oleh Redaksi pada Jumat, 2 Januari 2015 14:52 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.096 kali ditampilkan

Tepat pukul 00.00 wib bertepatan dengan bergantinya tahun, terhitung 1 Januari 2015. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menyatakan, harga premium yang semula Rp 8.500 per liter kini menjadi Rp 7.600 per liter dan solar menjadi Rp 7.250 per liter. Ini merupakan bonus akhir tahun bagi para pengguna kendaraan bermotor yang merupakan konsumen tetap premium dan solar.

Salah seorang Mahasiswi Stisipol Raja Haji, Risky Damayanthi mengatakan ini merupakan bonus dari bulan madu dari Jokowi-JK, Mudah-mudahan kebijakan ini tidak hanya sebuah pencitraan semata, dan sangat senang dengan kebijakan ke dua dari Jokowi-JK yang pada awalnya keliru menaikan Harga BBM bersubsidi hingga sampai Rp. 8.500,-.

"Bersyukur dengan adanya kebijakan baru yang di tetapkan Presiden Jokowi. Dikarenakan sejak awal kenaikan harga BBM yang berlaku pada Selasa (18/11/2014) saya sudah tidak setuju karena pada saat itu hingga sekarang pun harga minyak dunia masih sangat murah.," ujar Kiky panggilan akrabnya saat ditemui di Kediamannya, Kamis (1/1/2014).

Menurut dia, Presiden RI Joko Widodo baru saja tersadar dari tidur panjangnya, dan menyadari betapa pentingnya BBM bagi keberlangsungan perekonomian masyarakat Indonesia.

Namun, dengan diputuskan bahwa harga BBM bersubsidi ini tidak lah membuat Kiky merasa puas. Kiky meragukan apakah dengan diputuskannya penurunan harga BBM ini akan membuat harga barang kebutuhan pokok juga akan turun, dan mudah-mudahan biaya SPP perkuliahannya juga ikut turun.

"Harga kebutuhan pokok juga harus segera disesuaikan dengan harga pasar yang sesuai dengan kemampuan warga, kalo bisa Biaya SPP Perkuliahan juga ikut turun," ujar dia sambil tertawa.

Salah seorang sahabat Risky yang juga berkuliah di Stisipol Raja Haji, Ayu, ambil bicara berkenaan persoal naik-turunnya harga BBM Bersubsdi. Dia mengatakan, dengan adanya kebijakan pertama yang di tetapkan oleh Presiden menaikkan harga BBM adalah sebuah kebijakan yang keliru dan sangat menyusah bagi mahasiswa.

"Sakitnya tuh disini, sambil menujuk dada. Kasian lah kami kami Mahasiswa ini, naiknya BBM sudah pasti Harga Sewa kamar Kost-kosan ikut naik, tarif Angkutan Kota tidak jelas. Gimana mau meningkatkan Pendidikan yang ada di Indonesia kalo mau kekampus harus merogoh Kantong cukup dalam". Ujarnya, Kamis (1/1/2015).


Mereka juga berpesan mudah-mudahan ini bukan merupakan sebuah pencitraan, pemerintah diharapkan dapat mengevaluasi kebijakan sebelumnya sehingga program-program yang telah berjalan tidak terkendala dengan permasalahn yang baru.