Kondisi Memburuk, Balita Sirosis Hati Butuh Dana 1 Miliar
Dana sebanyak itu tentu bukan perkara mudah, sebab orang tuanya bekerja dengan upah yang minimal sehingga masuk kategori kalangan miskin. Apalagi dana itu harus diperoleh dalam waktu singkat, yakni minggu ini agar nyawanya dapat diselamatkan.
Ibunda Alfariel, Tri Astuti menjelaskan dirinya sudah bertemu dengan pakar cangkok hati dari Jepang, Prof Koichi Tanaka yang sangat prihatin dengan kondisi sang bayi. Salah satu pesan Prof Tanaka, Alfariel harus secepatnya operasi transplantasi hati untuk memulihkan kondisinya agar tak semakin memburuk.
“Prof Tanaka juga menilai kondisi anak saya dapat diselamatkan dengan secepatnya operasi. Sebab saat ini tak ada nutrisi yang masuk ke tubuhnya. Berharap dia gemuk juga mustahil sehingga solusi terbaik adalah operasi transplantasi hati secepat mungkin, “ tegasnya di Jakarta, Senin (10/2)
Tri mengaku tadinya berharap operasi dapat dijalankan di Indonesia agar mendapatkan bantuan pendanaan dari pemerintah melalui mekanisme Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Kondisi ini tak terjadi jika operasi dilakukan di Jepang, sebab BPJS tidak mampu memberikan bantuannya.
"Padahal setelah dilakukan transplantasi hati, ayah Alfariel (donor hati untuk Alfariel) butuh pengobatan selama setahun dan Alfariel juga butuh diberikan obat seumur hidup.Kalau nggak ditanggung BPJS, pasti berat," tambahnya.
Tri menegaskan operasi cangkok hati bisa dilakukan jika Alfariel memiliki bobot minimal 10 kg dan lingkar lengannya 14 cm. Untuk diketahui, saat ini kondisi fisik AlFariel tidak ideal yakni lingkar lengan Alfariel hanya mencapai 9,5 cm sehingga dokter bedah di rumah sakit yang merawatnya tak “berani” menjalankan operasi terhadapnya.
"Kalau belum mencapai berat badan dan lingkar lengan ideal, dokter bedahnya tidak mau. Menurut dokter bedahnya, jika nggak ideal, risiko meninggal dunia di meja operasi besar," sambungnya.
Karena ada patokan berat badan dan lingkar lengan, Tri sedang mengusahakan anaknya dapat mendapatkan pengobatan maksimal di Kobe, Jepang. Ini dipilih Tri, sebab menurut informasi dari Prof Tanaka, pengobatan di Jepang tidak dipatok berat badan dan lingkar lengan yang ideal.
"Jika Alfariel kondisinya masih sadar dan fisiknya kuat, harus secepatnya dilakukan transplan. Saya takutnya kalau nunggu seperti syarat yang diberikan, nanti anak saya keburu tidak sadarkan diri dan kondisinya semakin melemah," lirihnya.
Tri menuturkan sejak lahir berat badan anaknya sulit meningkat karena makanan yang diberikan akan keluar lagi karena tidak bisa dicerna. Feses Alfariel berwarna seperti dempul dan urinenya berwarna seperti air teh.
"Pada usia 4 bulan, kulit dan matanya mulai berwarna kuning. Saat itu perutnya belum membesar, maka di bawa ke RS Pasar Rebo untuk dikasih obat penghilang warna kuningnya. Setelah minum obat itu, kulitnya sudah mulai kembali normal dan setelah dicek kadar bilirubinnya juga sudah menurun," tegasnya.
Alfariel lantas dibawa ke RS Pasar Rebo saat berusia 7 bulan karena mengalami sesak napas. Kondisi ini terjadi karena perut Alfariel yang semakin membesar. Saat itu, dokter mendiagnosis Alfariel menderita sirosis hati. Karena peralatan RS Pasar Rebo belum lengkap, akhirnya dirujuk ke RSCM.
"Kondisi Alfariel juga makin gawat karena ketika diberikan susu, ia hanya memuntahkannya. Di RSCM, awalnya menduga disebabkan atresia bilier, tapi ternyata bukan itu penyebabnya. Kalau atresia bilier kan tidak ada saluran empedunya, kalau anak saya ada. Nah, dari hasil USG di RSCM, dokter melihat saluran empedu Alfariel bergelombang. Jadi saluran empedunya mengalami semacam varises, cairannya jadi terhambat. Dokter di RSCM bilang kasus Alfariel ini namanya penyakit caroli disease, kasus ini terjadi 1:15 juta kelahiran," terangnya.
Karena terhambat, cairan sudah semakin menumpuk di hati. Kondisi Alfariel juga semakin parah karena setelah di-USG kembali, cairan asites di perutnya sudah tidak ada.
“Ini membuat perutnya makin besar sekarang adalah hati yang makin lama makin besar dan mengeras, kondisi ini dinamakan sirosis hati. Hatinya sekarang udah rusak parah karena terlambat didiagnosis. Dokter bilang sudah tidak ada obatnya lagi untuk memulihkan kondisi Alfariel, jalan satu-satunya hanya transplantasi hati," ucapnya.
Kondisi seperti ini menyebabkan imun Alfariel menjadi rendah. Akibatnya Alfariel gampang tertular batuk dan flu. Jika sudah sakit seperti itu, maka butuh waktu lama untuk sembuh.
"Setelah beberapa kali dirawat di RSCM, dilakukan MRCT juga pada Alfariel dan didapatkan ada kista di perutnya. Jadi harus hati-hati kalau mau gendong dia, takut pecah. Kalau sudah pecah, bahaya, bisa meninggal dunia," tegasnya.
Saat ini, Al Fariel dibawa pulang orangtuanya sebab tidak ada perkembangan yang signifikan di RSCM sebagai rumah sakit yang merawatnya dan masih menunggu uluran tangan masyarakat Indonesia dan dunia. Berdasarkan data yang dihimpun dari Tim Sosial Kemanusiaan DPUT DT Jakarta donasi yang terkumpul untuk pengobatannya sudah mencapai Rp 150 juta. (is/dpudt/detik)
Untuk donatur yang ingin membantunya dapat melalui nomor rekening :
Bank CIMB Niaga Cabang Victoria 5200 100 46 9000 a.n DPU Daarut Tauhiid Jakarta
BNI 101 202 300 7 a.n DPU Daarut Tauhiid Jakarta
DPU Daarut Tauhiid Jakarta
Jl. Kompleks Departemen Kesehatan
Blok B No 16 B Jakarta Selatan CP: 021 999 66 498

