Eksekusi Mati Ditunda Setelah Muncul Isu Penyadapan Itu Aneh
Bukan tidak mungkin Joko Widodo (Jokowi) yang memberikan perintah atau mengiyakan saran pemenangan Pilpres 2014 lalu dengan segala cara melalui telepon.
"Akhirnya percakapan (via telepon) yang mungkin terjadi hanya beberapa detik saja menjadi sandera bagi Jokowi, sekarang diketahui Australia dan Selandia Baru menyadap teleponnya" kata pengamat politik dari Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID), Jajat Nurjaman dalam keteranga
Jajat berpendapat di atas kertas, sulit bagi Jokowi dan tim suksesnya untuk memenangi pertarungan melawan rivalnya ketika itu, Prabowo Subianto. Sebab Prabowo didukung oleh banyak partai besar, Nadhlatul Ulama, dan akar rumput yang merindukan Suharto.
"Saya yakin Jokowi orang baik yang tidak mau menang curang. Tapi Jokowi dikelilingi orang-orang yang punya rekam jejak menghalalkan segala cara untuk memenangi pertarungan politik," tengarainya.
Namun yang cukup jadi pertanyannya, jika Jokowi tidak merasa bersalah, untuk apa menunda eksekusi mati setelah muncul berita penyadapan oleh Australia.
"Sekarang akibatnya rakyat percaya memang Jokowi berbuat atau mengizinkan perbuatan tidak pantas saat disadap Australia zaman Pilpres lalu," tutup Jajat.[RMOL/wid]

