Sebelum BNPT nyatakan Aman, Kominfo Takkan Buka 22 Situs Radikal

Diterbitkan oleh pada Rabu, 1 April 2015 11:29 WIB dengan kategori Liputan Khusus dan sudah 977 kali ditampilkan

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tidak akan membuka kembali 22 situs yang dianggap radikal, hingga BNPT melakukan pengkajian bahwa situs tersebut dinyatakan aman.


 

Juru bicara BNPT, Irfan Idris mengatakan, BNPT akan mengikuti permintaan dari 22 pegelola situs untuk melakkukan pengkajian lebih lanjut permintaan normalisasi terhadap tujuh situs, antara lain, aqlislamiccenter.com, almustaqbal.com, arrahmah.com, panjimas.com, hidayatullah.com, salam-online.com, gemaislam.com.

 

Menanggapi hal ini, staf ahli menteri Kominfo, Henri Subiakto, komunikasi sulit dilakukan karena situs media islam menggunakan nama domain bukan milik Indonesia. Sehingga sulit bagi Kominfo untuk mengecek siapa pemiliknya.

 

"Tim internal akan melakukan kajian lagi terkait permintaan pembukaan situs-situs ini. Namun hingga proses itu selesai, situs tersebut akan tetap diblokir," pungkas Henri.

 

Sementara, Pemimpin redaksi Hidayatullah, Mahladi, mengatakan pihaknya tidak pernah melakukan pengkafiran terhadap orang seperti yang ditudingkan tersebut.

 

"Kami tidak pernah melakukan itu (kafir mengkafirkan orang lain) dan juga tidak pernah ada protes dari pembaca kami terkait hal tersebut," ujar Mahladi di kantor Kemenkominfo, Selasa (31/3/2015).

 

Selain itu, Mahladi menambahkan, seharusnya pemerintah tidak langsung asal memblokir melainkan terlebih dahulu memanggil pengelola situs dan mengklarifikasi pemberitaan yang dimaksud.

 

"Jika memang ada muatan radikalisme di dalam berita kami tolong tunjukan dimana sisi radikalnya," tegas Mahladi.

 

Protes keras juga disampaikan oleh pemimpin redakasi AQL Islamic Center.com, Agus Soelarto kepada BNPT. Dirinya menyatakan BNPT tidak melakukan pengayoman terhadap anggota masyarakat dengan baik.

 

"BNPT ibaratnya menggampar dulu seseorang baru kemudian meminta maaf jika tidak terbukti bersalah," ucapnya.

 

Menurutnya pihaknya merasa sangat dirugikan dengan pemblokiran ini. Pasalnya karena sekarang nama nama baik mereka dipertaruhkan. "Publik sudah menganggap kami sebagai teroris padahal kami hanya kelompok pengajian biasa,".

(OKZ)