Kadin Jakarta: Kenaikan BBM, Gas Elpiji, dan TDL Seperti Tak Pernah Dikaji
Tidak hanya pengusaha besar, pelaku usaha kecil menengah alias UKM juga kena imbas yang sama parah akibat memburuknya kondisi perekonomian nasional pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), gas elpiji dan tarif dasar listrik (TDL).
Demikian disampiakan Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang kepada Kantor Berita Politik RMOL Minggu malam (12/4).
"Memang belum sampai ada yang tutup. Tapi rata-rata sudah mengurangi produksinya. Untuk industri tempe misalnya, mereka sudah mengurangi produksi dan juga memperkecil ukuran tempe yang dijualnya agar tidak rugi," jelasnya.
Sarman sebenarnya tidak terlalu keberatan dengan kenaikan kenaikan harga BBM. Hanya saja, dia ingin ada kepastian harga. Jangan sampai tiap bulan, apalagi dua minggu sekali terjadi perubahan harga BBM. Sebab, hal tersebut membuat iklim usaha tidak stabil.
"Jangan samakan kita dengan negara maju yang ekonominya sudah kuat dan masyarakatnya kaya-kaya. Kita ini masih negara berkembang dan pelaku ekonomi kita masih kebanyakan dari UKM. Kita belum terbiasa dengan harga-harga yang bisa berubah setiap saat," pintanya.
Sarman juga berharap ke depannya ada koordinasi yang baik antarlembaga pemerintah. Jangan lagi ada kenaikan harga secara bertubi-tubi. Kenaikan harus di-manage dengan baik agar tidak terlalu berdampak pada ekonomi dan daya beli masyarakat.
"Jangan seperti sekarang, saat rupiah belum stabil, sudah ada kenaikan BBM, lalu kenaikan gas elpiji dan ditambah lagi dengan kenaikan listrik. Kenaikan-kenaikan ini seperti tidak dikaji lebih dulu. Padahal kan dampaknya sangat besar," tegas Sarman. [rmol/zul]

