Perencanaan Strategi dan Pendekatan Pembangunan Daerah
Conyers (1991) mengemukakan bahwa perencanaan pada hakikatnya adalah usaha secara sadar, terorganisasi secara terus menerus dilakukan guna memilih alternatif- alternatif yang baik dari sejemulah alternatif untuk mencapai tujuan tertentu.
Dengan kata lain perencanaan adalah suatu proses untuk mempersiapkan secara sistematis dengan kesadaran penggunaan sumber daya yang terbatas akan tetapi diorientasikan untuk mencapai tujuan yang efisien dan efektif. Sebelum kita melakukan penyusunan terhadap perencanaan pembangunan daerah maka kita perlu memperhatikan suatu identifikasi masalah-masalah dan potensi-potensi daerah. Identifikasi merupakan suatu perencanaan / (planning ) dengan memberikan sebuah gambaran tentang sifat, karakter, strategi dan arah kegiatan ekonomi pembangunan daerah. Setelah itu di lihat dari basic contralisasi nya menganalisi potensi dan masalah-masalah sektor, regiunal dan lain-lain, serta kuantitatif untuk bekal melakukan penyusunan pembangunan daerah. Tahapan berikutnya kita harus melakukan proyeksi untuk melakukan kebijakan prospek daerah secara jangka panjang. Kegiatan suatu proyeksi meliputi bidang ekonomi seperti, produksi, modal-modal, tabungan, konsumsi , investasi , ekspor impor dan lain-lain. Hal ini sangat penting kita ketahui sebelum melakukan sebuah pembangunan karena kita dapat mempertimbangkan keberhasilan suatau proyek pembangunan daerah.
Pendekatan pembangunan merupakan suatu strategi dalam upaya untuk mencpai sebuah keberhasilan terhadap visi- misi yang telah di buat. Oleh karena itu sebelum kita melakukan pendekatan pembangunan kita memerlukan sebuah strategi dalam pembangunan tersebut. Tjokroaminoto (1997) menguraikan beberapa pendekatan dalam pembangunan. Di antaranya yaitu: a. Pendekatan alternatif pembangunan sosial, b. Pendekatan pembangunan sosial atas- bawah, c. Pendekatan pengelolaan sumber yang bertumpu pada masyarakat.
Masalah-masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada penekatan-penekatan kebijakan-kebijakan yang di dasari berdasarkan pada khasan daerah yang bersangkutan, dengan menggunakan potensi sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya buatan yang dimilik oleh daerah masing-masing (Khusaini, 2006). Di sini APBD menduduki posisi sentral dalam upaya pengembangan kapabilitas dan efektivitas pembangunan. APBD digunakan untuk sebagai alat menentukan besarnya pendapatan dan pengeluaran, membantu pengambilan Keputusan yang akan datang.
Untuk mengukur sebuah keberhasilan pembangunan yang ideal kita harus ditentukan berdasarkan dimensi pembangunan. Yakini tergantung pada fokus dan orientasi pembangunan mana yang harus di kerjakan terlebih dahulu baik sebagai perencana dan perancang. Untuk mengukur keberhasilan pembangunan ini adalah dengan pendekatan pengetasan kemiskinan, yakini bahwa keberhasilan suatu pembangunan diukur dengan seberapa jauh upaya-upaya pembangunan dapat mengataskan suatu kemiskinan. Kemiskinan itu cukup bervariasi, namun pada umumnya di landaskan pada sebuah pemikiran adanya tingkat level yang tertentu yang harus di penuhi oleh manusia yaitu tingkat hidup layak, untuk dapat beraktivitas memperbaiki taraf kehidupannya dan tanpa mengantungi orang lain.
KRISNA
Mahasiswa Stisipol Raja Haji

