Bank Indonesia Nyatakan Inflasi Bulan Mei Disebabkan Bahan Pangan Bergejolak

Diterbitkan oleh pada Senin, 1 Juni 2015 19:46 WIB dengan kategori Bisnis dan sudah 1.025 kali ditampilkan

Bank Indonesia (BI) menyatakan, inflasi pada Mei 2015 disebabkan oleh peningkatan inflasi bahan makanan yang bergejolak (volatile food).


Realisasi inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2015 tersebut berada di atas perkiraan Bank Indonesia dan di atas rata-rata inflasi historis pada bulan Mei dalam enam tahun terakhir.

Seperti diketahui, Inflasi IHK Mei 2015 tercatat sebesar 0,50 persen (month to month/mtm) atau 7,15 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,36 persen (mtm) atau 6,79 persen (yoy).

"Peningkatan inflasi volatile food terutama terjadi pada komoditas aneka cabai, daging dan telur ayam ras, bawang merah, dan bawang putih, tekanan harga pada komoditas tersebut lebih tinggi dari penurunan harga beras yang menyumbang deflasi sebesar 0,04 persen," ungkap Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs di Jakarta, Senin (1/6/2015).

Selain itu, dia menjelaskan tekanan inflasi juga terjadi pada kelompok harga barang yang dikendalikan oleh Pemerintah (administered prices), terutama didorong oleh kenaikan tarif listrik dan tarif angkutan udara.

"Namun, tekanan inflasi inti masih terjaga di level yang cukup rendah yakni sebesar 0,23 persen (mtm), sejalan dengan kegiatan perekonomian domestik yang cenderung tumbuh moderat dan ekspektasi inflasi yang terkendali," sebutnya.

Ke depan, lanjut dia, BI terus mencermati berbagai risiko yang memengaruhi inflasi, khususnya perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar, penyesuaian administered prices, faktor musiman menjelang Ramadhan dan lebaran, serta gejolak harga pangan terkait kemungkinan terjadinya El Nino.

Dengan perkembangan realisasi inflasi Mei tersebut, BI menilai bahwa target inflasi 2015 sebesar 4 plus minus 1 persen masih dapat dicapai. Namun, diperlukan penguatan koordinasi kebijakan pengendalian inflasi di tingkat pusat dan daerah, melalui forum Tim Pengendalian Inflasi (TPI) dan Kelompok Kerja Nasional Tim Pengendalian Inflasi Daerah (Pokjanas TPID), termasuk langkah-langkah strategis dalam mengendalikan tekanan harga pangan khususnya menjelang Ramadhan dan Lebaran.

(rzy)