Rokok FTZ Beredar Luas di Lingga

Diterbitkan oleh pada Senin, 15 Juni 2015 07:20 WIB dengan kategori Lingga dan sudah 2.108 kali ditampilkan

LINGGA - Masuknya rokok Free Trade Zone (FTZ) ke Kabupaten Lingga menimbulkan tanda tanya besar. Pasalnya beredar luas rokok FTZ ini di Lingga, diduga adanya campur tangan oleh oknum instansi terkait yang ikut bermain. Disinyalir masuknya barang-barang FTZ ke Lingga ini melewati daerah Lingga Utara, Pancur, Senin (15/6).


Sumber media ini mengatakan, walau barang pokok kebutuhan masyarakat dari Batam, Bintan, Karimun (BBK) yang merupakan daerah FTZ dilarang masuk ke Lingga, namun masih ada yang bisa masuk ke Lingga, seperti Rokok yang tidak ada Bandrolnya, jelas barang tersebut dari daerah FTZ dan diperuntukan bagi Daerah yang masuk dalam kawasan FTZ saja.


“Masuknya Rokok tersebut ke Lingga tentunya menjadi tanda tanya bagaimana barang tersebut bisa masuk, sementara barang kebutuhan masyarakat tidak boleh masuk, tentu ada pihak-pihak yang terkait bermain sehingga barang tersebut dengan bebas masuk ke Lingga,” ujarnya.


Dia menduga, masuknya rokok ini ada campur tangan oknum instansi terkait yang ikut bermain. Jika memang tidak ada oknum, tentu rokok FTZ ini sulit untuk diperoleh, seperti halnya mendapatkan sembako.


Kita minta ketegasan dari pihak-pihak terkait mengusut masalah rokok ini, karena bukan rahasia umum lagi rokok tanpa bandrol ini beredar di toto-toko pengecer, sepertinya rokok ini terlewat dari pengawasan.“Kita menduga ada oknum-oknum tertentu yang ikut bermain sehingga rokok ini dapat masuk ke Lingga,” pungkasnya.

 

Dilanjutkannya lagi, adanya kebijakan yang melarang barang-barang dari kawasan bebas masuk ke Kabupaten Lingga, karena Lingga tidak masuk dalam kawasan FTZ. Walhasil membuat berbagai barang kebutuhan masyarakat sulit dicari seperti beras, gula dan lain-lainnya. Saat ini, berbagai barang kebutuhan masyarakat tersebut yang masuk ke Lingga dari Provinsi Jambi, tentu barang seperti beras dan gula tersebut masih bisa didapatkan, namun harganya lebih mahal dibandingkan barang yang masuk dari daerah FTZ.