Tudung Manto Diusulkan Jadi Warisan Budaya ke UNESCO

Diterbitkan oleh pada Ahad, 5 Juli 2015 06:36 WIB dengan kategori Lingga dan sudah 1.769 kali ditampilkan

LINGGA - Terkait dengan ikatan emosional sejarah kultur masyarakat Lingga dengan masyarakat di Malaysia terutama Johor dan Pahang, begitu juga sejumlah ikonik budaya yang sama, maka untuk kerajinan Tudung Manto dan Kesenian Budaya yang berkembang di Daik Lingga, Prof Pudentia menjelaskan bahwa dua wilayah saat ini harus dibedakan, ketika bicara Nusantara itu bicara zaman kerajaan. Dan ketika bicara Negara (State) itu terjadi batas negara yang jelas.


 

"Harus dibedakan. Ketika bicara Kerajaan melayu di Lingga. Teritorial negara itu batas batas politik dan budaya tidak bisa disamakan,"ujarnya pada seminar WATB di Lingga Pesona Hotel, Kamis malam (02/07).


 

Untuk verifikasi hasil kerajinan ini,tidak menjadi pertentangan, maka  kita  mengacu kepada  konvensi ada pencatatan yang sudah disepakati oleh  PBB dan UNESCO.


 

Tahap berikutnya, dijelaskan Pudentia, tiap tahun ada  di beberapa provinsi verifikasi ini di lakukan. Hanya saja banyaknya Warisan Budaya Tak Benda terkendala akibat minimnya kajian ilmiah terhadap benda budaya tersebut.


 

Di Provinsi Kepri, kata Pudentia, yang telah tiga tahun melakukan verifikasi terdapat 12 unit WBTB yang tercatat sebagai ikon nasional diantaranya  Makyong, Pantun,  Gurindam dua belas. Mendu, Joged Dangkung maupun Gazal.


 

"Pada verifikasi Tudung Manto dan Tonel (Bangsawan) pada konten ini  Kita lagi mencari alasan terkuat, Penetapan oleh Kemendikbud, sebagai ikon nasional kata Pudentia harus berdasarkan kesepakatan pemilik budaya itu sendiri.  Tanpa dukungan Provinsi, Kabupaten dan komunitas.  Mungkin ini sulit menguatkan  menguatkan bangsawan sebagai warisan di Indonesia.


 

Begitu juga pengusulan ini dapat diusulkan melalui  14 kriteria yakni melalui  keunikan, dan khas daearh tersebut. (Bayu/Terkininews)