Meriam Bambu: Permainan Tradisi Bulan Ramadhan Perlahan Mulai Hilang

Diterbitkan oleh pada Kamis, 9 Juli 2015 12:19 WIB dengan kategori Lingga dan sudah 2.411 kali ditampilkan

LINGGA - Banyak permainan rakyat yang sebenarnya akan muncul dengan sendirinya apabila memasuki Bulan Ramadan. Salah satunya adalah permainan meriam bambu. Bagaimana tidak, momen untuk permainan meriam bambu ini hanya ada pada Bulan Ramadan (bulan puasa) saja. Itu artinya, untuk memainkan meriam bambu, harus menunggu satu tahun.


Namun, permainan tradisional tradisi setiap Ramadhan ini, sudah sangat jarang lagi kita temukan dan dimainkan lagi di era kini. Dan biasanya waktu bermain meriam bambu ini pada sore hari hingga pertengahan malam bahkan dilanjutkan usai sahur hingga fajar menyingsing.


Bukan hanya sekedar asyik memainkannya, namun meriam bambu ini juga berfungsi untuk membangunkan warga untuk makan sahur. Pasalnya, meski dari bambu, namun dentumannya hingga mencapai radius berkilometer jauhnya.


Masyarakat menilai, permainan ini ‘hilang’ karena tergerus teknologi zaman. Seperti yang diungkapkan salah seorang warga Daik, Kabupaten Lingga, Ayub Afandi. Pria yang kini berumur 45 tahun itu mengaku jika meriam bambu saat ini sudah langka dijumpai.


“Zaman kami dulu, setiap Ramadhan, meriam bambu menjadi salah satu tradisi permainan musiman. Dan waktu itu tidak ada larangan. Hanya saja, yang menjadi perhatian bagi siapapun yang bermain, harap berhati-hati. Karena, kalau tidak mengerti teknis bermainnya, bisa terbakar wajah,” terang Ayub.


Ayub menjelaskan, tidak butuh keahlian khusus dalam memainkan meriam bambu ini. Karena alat itu dibuat dengan sederhana. Untuk meminimalisir risiko, sebaiknya bambu yang digunakan bambu yang sudah tua. Karena tidak mudah pecah ketika dentuman api itu diledakkan. Sebaliknya jika bambu itu tidak tua, maka seringkali berisiko.


Membuatnya pun, tambah Ayub, cukup sederhana. Sebatang bambu tua dengan panjang sekitar 1,5 - 2 meter itu, dilubangi kurang lebih sebesar biji pala atau sebesar jempol kaki pada ruas pangkal batang. Selanjutnya mulai dari ruas ujung hingga ruas setelah lubang ditembuskan atau dibolongi. Kemudian pada ruas pangkal batang tadi diisi minyak tanah.


“Sedangkan untuk stik sulutan bisa menggunakan ranting kering atau bilah bambu yang dilicinkan sepanjang 50 – 70 cm dengan diameter sebesar jari orang dewasa. Setiap usai mendentumkan, lubang di pangkal itu harus ditiup guna membuang/membersihkan asap yang masih mengepul di dalam ruas bambu itu. Lalu, cara itu dilakukan berulang-ulang. Semakin panas meriam itu, maka semakin besar dentumannya,” papar Ayub.


Tapi, lanjut Ayub bisa kita lihat sekarang, permainan itu sudah jarang ditemukan saat ini. Ada beberapa yang memainkan tapi itu hanya satu atau dua orang saja.


"Kini permainan meriam bambu berada di ambang kepunahan, dengan tidak adanya generasi penerus yang senantiasa melestarikan permainan tradisional yang merupakan salah satu budaya nenek moyang kita pada zaman dahulu," tutup Ayub.