Warga Daik Sambut Moment Tujuh Likur Dengan Tradisi Colok
LINGGA - Menyambut pekan terakhir di bulan Ramadan atau lebih dikenal dengan tradisi "tujuh likur", sejumlah masyarakat yang bermukim di Daik, Ibu Kota Kabupaten Lingga, menggelar tradisi "colok" (pelita) dengan membuat gerbang-gerbang yang dihiasi bermacam-macam bentuk dan modelnya, Kamis (9/7).
Tradisi "tujuh likur" ini merupakan warisan budaya yang telah puluhan tahun dilakukan untuk menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan. Dengan suasana yang terang benderang, hingga hari ini tradisi budaya tersebut masih melekat dimasyarakat Kabupaten Lingga.
Kegiatan rutin para pemuda tempatan untuk membuat gerbang menyambut malam "tujuh likur" pun sudah mulai tampak. Pengerjaan gerbang tersebut dilakukan mulai sejak seminggu bulan puasa. Mengingat siang harinya puasa, pengerjaan gerbangnya banyak dikerjakan pada malam harinya setelah selesai shalat tarawih.
Pintu gerbang yang dibuat hampir disetiap kampung menjadi daya tarik tersendiri apalagi dengan motif-motif yang berfariasi. Bahkan tak banyak orang-orang yang ingin mudik untuk menikmati malam "tujuh likur" ini.
Seperti yang diungkapkan Dedi warga Kampung Tembaga, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Tradisi colok di malam tujuh likur ini telah berlangsung lama. Kegiatan ini merupakan wujud dari rasa sayang masyarakat dalam melepaskan bulan suci Ramadhan.
"ya biasanya tiga malam menjelang berakhirnya bulan puasa yang dimulai pada malam ke 27, sangat semarak karena ratusan colok banyak menghiasi jalanan raya dan juga dipekarangan halaman rumah-rumah warga. Belum lagi bunyi dentuman petasan dan keramaian para warga yang memenuhi jalanan raya menikmati susana malam "tujuh likur" dengan melihat gerbang-gerbang yang dibuat oleh para kaum muda," papar dedi singkat.

