Butuh Rp 40 Miliar Redamkan 167 Titik Api di Riau
RIAU - BNPB Gelontorkan Rp40 Miliar Buat Hujan Buatan Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta pengaruh El Nino moderat menyebabkan kondisi cuaca di Riau kering.
Bahkan diperkirakan panas ekstrim yang melanda sebagian wilayah Indonesia khususnya Riau hingga November ke depan.
Untuk mencegah terhulangnya Karhutla seperti halnya tahun lalu, BNPB menggelontokan dana Rp 40 miliar untuk membuat hujan buatan selama 90 hari di Sumatera dan Kalimantan serta provinsi yang menjadi tempat potensial terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
"Biaya ini sebagian besar untuk operasional pesawat terbang. Pemda Kalimantan Barat juga sudah mengajukan dilakukan hujan buatan mengatasi kebakaran hutan dan lahan," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan pers-nya, Ahad (12/7/15).
Langkah ini diambil sesuai instruksi Presiden Joko Widodo pada 2015, di mana BNPB diminta membantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai penanggung jawab mengendalikan kebakaran hutan dan lahan.
BNPB mendukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan mendampingi BPBD di daerah. Gubernur dan bupati atau Wali kota menjadi penanggung jawab di daerahnya. Salah satu upaya mengatasi kebakaran hutan dan lahan, sambung Sutopo, untuk memodifikasi cuaca atau hujan buatan, BNPB bekerja sama dengan BPPT, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan TNI-AU.
Di Riau sendiri hujan buatan atau modifikasi cuaca dilakukan sejak 22-6-2015 hingga sekarang dengan menggunakan pesawat CN-295 TNI-AU. Tercatat, tidak kurang 36,5 ton garam (NaCl) telah ditaburkan ke dalam awan dari pesawat sebanyak 21 kali penerbangan. Di Sumsel, hujan buatan menggunakan pesawat Casa 212-200 Pelita Air Service sejak 9-7-2015 dengan menaburkan 5 ton garam. Kebakaran hutan dan lahan akan mudah terjadi di Sumatera dan Kalimantan jika tidak diantisipasi dengan baik. Bencana asap dapat berulang kembali dan menimbulkan dampak besar.
Menurut data, kerugian ekonomi kebakaran hutan dan lahan di Riau pada Februari-April 2014 mencapai Rp 20 triliun, 2.398 hektar cagar biosfer terbakar, 21.914 hektar lahan terbakar, 58.000 orang menderita ISPA dan sekolah diliburkan.
Sementara berdasarkan satelit Modis pada Ahad (12/7/15) tercatat ada 237 hotspot di Sumatera. Sebagain besar didominasi Riau, yakni 167 hotspot. Sementara, Sumut 37, Sumsel 14, Jambi 18, dan Lampung 1. ***(RTC/mok)

