Ribuan Pelita Sinari Cahaya Malam 7 Likur Di Lingga

Diterbitkan oleh pada Selasa, 14 Juli 2015 13:44 WIB dengan kategori Lingga dan sudah 4.037 kali ditampilkan

LINGGA - Ribuan pelita minyak tanah hiasi malam Tujuh Likur di Daik, Ibukota Kabupaten Lingga. Pelita ini dinyalakan oleh warga setempat, untuk memeriahkan suasana pada waktu malam serta sebagai simbolik menyambut kedatangannya Hari Raya Aidilfitri, Senin (13/7).


 


 

Merupakan tradisi masyarakat Lingga yang dilaksanakan pada setiap malam 27 Ramadhan yaitu “Malam Tujuh Likur” tersebut. Pada malam ini hampir setiap rumah penduduk menyalakan pelita (lampu teplok) disekitar rumah, jalan dan lorong-lorong, serta digerbang-gerbang yang dibangun bernuansa Islami seperti bertuliskan khaligrafi dan kubah mesjid.


 

Pantauan dilapangan, ribuan pelita yang dinyalakan warga ini, hiasi malam tujuh likur tersebut. Sementara itu, sumber media ini mengatakan, Amalan di "Malam Tujuh Likur" dengan menyalakan pelita, lilin, dan lampu lainnya pada malam 27 Ramadan merupakan amalan bidaah dalam Islam.


 

Ditegaskannya, istilah tujuh likur itu sendiri tidak ada di dalam ajaran agama Islam. Amalan tersebut tidak wujud dalam ajaran Islam lebih-lebih lagi mereka yang percaya pada malam 27 itu perlu disinari dengan cahaya lampu.


 

"Perbuatan memasang lampu pada malam itu adalah bidaah dan tidak ada di dalam Islam. Tidak kira lampu apa pun sama ada pelita, lilin, atau lampu berwarna-warni," ungkapnya.


 

Dia mengatakan, kenapa hanya pada malam tujuh likur dinyalakan pelita yang begitu banyak ? Karena, menganggap pada malam 27 itu adalah malam Lailatul Qadar sebab itulah mereka menerangkan suasana rumah mereka dengan cahaya lampu atau pelita.


tanya.

 

Oleh sebab itu, lanjutnya lagi, malam tujuh likur ini biasanya diamalkan di kampung-kampung yang mana hampir keseluruhan rumah akan disinari dengan cahaya lampu terutama menjelang Syawal.


"bagaimanapun amalan ini sudah sebati dalam masyarakat Islam pada hari ini," ungkapnya.