Makna Idul Fitri

Diterbitkan oleh pada Jumat, 17 Juli 2015 20:00 WIB dengan kategori Opini dan sudah 992 kali ditampilkan

Secara terminologis, Idul Fitri dapat diartikan kembali kepada sifat asli menurut kejadian. Itulah sebabnya, pada bulan ini umat muslim diibaratkan sebagai bayi yang baru lahir yang terbebas dari dosa.

 

 

Kotoran-kotoran dosa sudah berguguran. Hati umat muslim yang telah menjalankan beragam ibadah pada bulan Ramadan kembali menjadi suci dan bersih dari noda. Kini, kertas putih itu telah diserahkan kembali kepada umat muslim akan menggoreskan warna tinta apa yang akan ditorehkannya.


Secara umum ada lima makna yang terkandung di bulan yang fitri ini sesuai dengan yang tertuang dalam Alquran dan hadis. Pertama, manusia adalah makhluk yang beragama. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkann keturunan Adam mengambil kesaksian mereka, “Bukankah Aku ini Tuhanmun?” Mereka menjawab: “Betul  (Engkau Tuhan kami), kami menjawab saksi” (QS Al’Araf ayat 172).


Ini bermakna, manusia harus mentaati apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT sebagai Tuhan yang menciptanya. Disamping itu, umat Islam juga dituntut kesadarannya dan kehati-hatiannya  dalam menjaga hati yang telah bersih. Secara hakikatnya pula, umat Islam juga harus senantiasa menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.


Kedua, manusia sebagai makhluk yang suci. Dalam QS Asy-Syura; 89 Allah  berfirman, “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah SWT dengan hati yang bersih,”. Jaminan hati yang bersih ini diperoleh oleh orang-orang yang berpuasa ikhlas hanya untuk beribadah kepada Allah SWT sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampunkan dosanya yang telah lalu,”  (HR. Bukhari dan Muslim).


Keempat, manusia adalah makhluk bermartabat tinggi. Allah berfirman, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Yusuf: 53). Kelima, manusia makhluk sosial. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu mengenal,” (QS Al-Hujuraat: 13).


Dengan kata lain, sebagai makhluk sosial (zoon politicon) manusia mempunyai potensi untuk berbuat dosa antara satu sama lain. Berbagai kekeliruan dan kejengkelan tanpa disadari telah kita ciptakan. Di hari yang fitri, Allah SWT telah memberikan maafnya berupa ampunan dari segala dosa. Namun, Allah SWT tidak menghapus dosa yang berhubungan dengan ketersinggungan antara manusia yang satu dan lainnya. Dilihat dari proses hijrahnya manusia ke alam yang fitri Allah SWT melalui utusan-Nya menginformasikan tindakan seorang muslim menghindar dari saudaranya lebih dari tiga hari tanpa sebab yang dibenarkan syariat. Menghindarnya selama tiga hari hukumnnya makruh dan selebihnya haram kecuali karena suatu sebab darurat. Inilah tujuan utama silaturahim pada saat idul fitri dan halal bi halal yaitu sarana untuk saling memaafkan dan saling menghapus dosa antarumat.

Pelurusan niat dan keikhlasan untuk memaafkan.


Dalam Islam, apapun perbuatan dan aktivitas yang kita lakukan itu memiliki nilai ibadah sejauh perbuatan itu diniatkan atau ditujukan kepada kepada Allah SWT bukan karena sebab-sebab yang lainnya seperti popularitas apalagi mengharapkan pujian orang lain. Agar halal bi halal menjadi sesuatu yang bernilai tidak hanya dari aspek keduniaannya saja, tetapi dari aspek ukhrawi (akhirat) juga akan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Rabb semesta alam maka dirasakan perlu untuk tiap-tiap penyelenggara meluruskan niatnya.


Hal ini sesuai dengan apa yang  disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW riwayat Imam Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya, amalan-amalan itu tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai yang diniatkannya. Barangsiapa niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya; maka hijrahnya diterima oleh Allah dan Rasul-Nya; barangsiapa yang niat hijrahnya untuk dunia yang akan diperolehnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu pun akan sampai kepada apa yang diniatkannya,”.


Pada hadis lain yang diriwayatkan Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi, “Allah Ta’ala berfirman,  ‘Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan. Barangsiapa yang melaksanakan amalan yang di dalamnya ia mempersekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka aku berlepas diri darinya’”.  Disini yang perlu digarisbawahi, seseorang akan mendapatkan kedua kenikmatan baik duniawi maupun ukhrawi apabila aktivitas yang dilakukan itu diniatkan untuk Allah SWT, tetapi tidak untuk orang-orang yang meniatkan segala aktivitasnya kepada selain-Nya. Mereka hanya mendapatkan pujian sesaat dari segelintir manusia dan popularitas yang sekejap saja habisnya.


Memang perlu penulis akui, dari halal bi halal yang menjadi tradisi umat muslim di Indonesia banyak hikmah yang dapat dipetik antara lain memupuk rasa ukhuwah islamiah, memberikan kesempatan untuk bersilaturahim secara luas sebab selama lebaran tidak semua rumah yang dapat dikunjungi, menumbuhkan motivasi suatu organisasi entah itu yang bersifat birokrasi maupun non-birokrasi  kepada para anggotanya atau kader-kadernya, tempat tukar-menukar informasi dan wadah untuk saling memaafkan kesalahan dan kekhilafan.


Namun, sekali lagi penulis merasa perlu menegaskan untuk memaafkan orang lain kita membutuhkan suatu keikhlasan. Bukan senyuman dan jabatan tangan yang dipaksakan, tetapi yang kita butuhkan adalah keikhlasan untuk memaafkan ketika kita berjabat tangan kepada orang-orang yang tanpa disadari telah kita zalimi dan orang lain yang telah menzalimi diri kita. Akhirnya, mumpung masih dalam bulan Syawal penulis menyusun sepuluh jari meminta maaf kepada seluruh pembaca atas kesalahan dan kekeliruan yang mungkin terdapat dalam tulisan ini.


Taqabballahu minna wa minkum. Selamat hari raya idul fitri 1436 Hijriah. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan senantiasa mengingatkan dan menyadarkan kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi-Nya. Amin.

 

*Pimred Terkininews.com