Mustafa Nahrawardaya Nilai Gidi Berpotensi Jadi Organisasi Teroris

Diterbitkan oleh pada Sabtu, 25 Juli 2015 09:21 WIB dengan kategori Nasional dan sudah 853 kali ditampilkan

Tanpa disadari, peristiwa Tolikara menujukkan ada proses awal dari sebuah kebiadaban besar bernama terorisme. "Unsur-unsur dari peristiwa terorisme sebenarnya telah terpenuhi pada kejadian di Tolikara," kata peneliti terorisme dari Indonesia Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B Nahrawardaya, dalam keterangan beberapa saat lalu (Sabtu, 24/7).



Unsur itu, jelas Mustofa, pertama ada ideologi yang mendorong pelaku untuk melakukan kekerasan berupa perusakan, pembakaran, dan perbuatan menebar kebencian yang mana beberapa perilaku ini dapat disebut sebagai tindakan-tindakan radikalisme. Adanya surat intoleran dari GIDI, cukup sebagai bukti adanya satu ideologi yang mendorong mereka untuk melakukan teror.

Kedua, ada efek berantai akibat perbuatan teror para pelaku. Efek ini berupa ketakutan massal. Efek ketakutan massal tidak hanya dirasakan oleh orang Islam saja, tetapi juga dirasakan oleh Kristen selain yang mengikuti aliran atau organisasi para pelaku.

"Seperti diketahui, bahwa korban dari perbuatan pelaku teror Tolikara, tidak hanya pihak Islam, namun juga pemeluk agama-agama lain, termasuk Kristen sendiri," ungkap Mustofa.

Ketiga, lanjtunya, pelaku diketahui memiliki jaringan. Dengan adanya banyak cabang organisasi para pelaku, bahkan adanya jaringan di luar negeri, maka dimungkinkan jaringan ini telah dan akan berkontribusi untuk melakukan perilaku teror bahkan bisa lakukan tindakan terorisme pada waktu dan tempat berbeda di waktu mendatang.

"Jika tidak dihentikan dari awal, maka GIDI berpotensi menjadi organisasi teroris besar seperti Al Qaeda atau Jamaah Islamiyah," tegas Mustofa. (RMOL)