"70 Pintu Maaf": Abu Hasim Pamit Diakhir Masa Jabatannya

Diterbitkan oleh pada Rabu, 12 Agustus 2015 09:48 WIB dengan kategori Lingga dan sudah 957 kali ditampilkan

LINGGA - "70 pintu maaf", itulah puisi karya Wakil Bupati Lingga, Abu Hasim saat dirinya berpamitan pasca berakhirnya masa jabatan sebagai Wabup mendampingi Bupati Lingga H Daria, periode 2010/2015 dengan Jajaran Pemerintah Kabupaten Lingga, di Aula Kantor Bupati, Selasa (11/8).


Dalam kesimpulan puisi tersebut, Abu Hasim membunyikan tentang simpul kehidupan asing yang dialami dirinya selama menjabat sebagai wakil Bupati, dilima tahun terakhir, mulai dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2015.


Kemudian untuk pamitannya, Abu Hasim mengucapkan terimakasih dan permohonan maaf kepada seluruh PNS, PTT, THL dan segenap jajaran pemerintah Kabupaten Lingga, yang telah memberikan kontribusi terhadap pembangunan di Kabupaten Lingga selama lima tahun periode kepemimpinannya tersebut.


"Kepada PNS,PTT, THL dan seluruh jajaran staf pemerintah kabupaten Lingga, saya mengucapkan terimakasih atas kebersamaannya dan kontrubusinya selama lima tahun ini. Sewajarnya, seperti ungkapan orang melayu, kalau datang nampak muka, pulang nampak punggung," kata Abu Hasim.


Abu Hasim menjelaskan, setelah melepas masa jabatan tersebut, ia kembali menjadi PNS seperti sebelumnya, tanpa kantor dan jabatan hingga beberapa bulan kedepan, setelah dilantiknya Bupati defenitif. "Saya ingin tetap mengabdi di tanah kelahiran saya ini. Secara kesempatan, mungkin saya bisa saja minta di tempatkan di provinsi, namun saya lebih memilih tetap mengabdi di daerah ini selama dibutuhkan," tuturnya.


Abu Hasim yang juga meminta maaf kepada semua pihak yang mungkin kecewa atas kepemimpinannya selama lima tahu, menyadari bahwa tak banyak hal yang bisa ia lakukan dengan jabatannya tersebut. "Kalau dibilang soal semangat, itu luar biasa saya miliki. Namun sepertinya, Bupati kita belum ingin saya bantu. Tiga kali saya mencoba mengusulkan tugas dan fungsi saya untuk membantu kerja beliau, tapi tak juga ditanggapi. Jadi dengan berat hati saya hanya bisa bersabar," ungkapnya.


Menurut Abu, sikap bersabar adalah jalan terbaik yang bisa ia ambil. Itupun, dari beberapa saran yang ia simpulkan melaui orang-orang yang ia anggap cukup bijaksana.


"Saya pernah curhat dengan pak Ismet Abdullah tentang hal ini dan menyarankan kepada saya untuk bersabar. Begitupun Pak Gubernur HM Sani, yang memberi saran yang sama kepada saya. Saya menyimpulkan, Bersabar adalah jalan terbaik selama lima tahun ini," terangnya.


Dia menyadari, sebelas tahun kabupaten Lingga, pertumbuhan ekonomi masih lambat. Lapangan pekerjaan masih sangat minim dan investasi sulit masuk kedaerah. Sementara daerah hanya bergantung pada APBD. Masalah ini hanya bisa diselesaikan oleh pemimpin yang memiliki visi pembangunan yang baik dengan didasari latar belakang kepemimpinan yang baik pula.


"Saya sadar latar belakang pendidikan dan pengalaman saya sebagai PNS yang secara tugasnya, menghabiskan anggaran APBD, maka akan sulit untuk membuat ekonomi Lingga tumbuh pesat. Ini jaga yang menjadi landasan saya, tidak ikut mencalonkan Bupati. Saya menilai, beberapa calon kita cukup layak untuk membawa perubahan kedepan," paparnya.


Diakhir masa jabatannya, Abu Hasim berharap, seluruh jajaran pemerintah Kabupaten Lingga yang punya hak pilih di Pilkada 9 Desember mendatang, untuk lebih teliti dalam memilih pemimpin daerah mendatang. " Jangan asal pilih, karena akan sangat berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi," kata dia.