Nelayan Budus Butuh Pelabuhan Tambatan Perahu
LINGGA - Warga nelayan Budus, desa Merawang, Kecamatan Lingga butuh pelabuhan tambatan perahu. Pasalnya kondisi sungai Budus yang buntu membuat warga tak bisa lagi menambatkan pompong dan sampan mereka di sungai tersebut, Rabu (19/8).
Informasi dilapangan, sejak setahun terakhir akibat buntunya aliran sungai Budus, membuat sampan-sampan nelayan tak bisa ditambatkan. Untuk tetap dapat melaut, warga Budus terpaksa memindahkan tempat tambatan perahu mereka di Tanjung Buton.
"Sungai sudah lama buntu. Jadi kami pindah ke Tanjung Buton kalau mau melaut," ungkap Bujang, salah seorang nelayan desa Budus.
Biasanya dikatakan Bujang, saat kondisi sungai masih baik, warga cukup turun ke aliran sungai Budus. Mengayuh perahu mereka keluar mura hingga ke laut untuk mencari rezekai. Namun saat ini, untuk sampai ke tambatan perahu mereka di Tanjung Buton, warga harus menggunakan sepeda maupun motor melewati jalan raya hingga 3 kilometer.
"Tambatan yang ada sekarang, kita nelayan disinilah yang membuat. Bergotong royong menimbun jalan. Yang menjadi kendala kita, saat air laut surut. Sampan harus kita dorong hingga 1 kilometer, sebab belum ada tambatan dan pelabuhannya," ungkap Bujang, Selasa (18/8).
Untuk itu, ia dan 30 orang nelayan Budus lainnya yang menambatkan perahu mereka di pohon-pohon bakaw Tanjung Buton, berharap perhatian pemerintah setempat untuk membangun fasilitas tambatan perahu bagi nelayan pesisir Budus, desa Merawang. Sejak 11 tahun terakhir, meski dekat dengan ibukota kabupaten, yakni Daik Lingga, nelayan Budus belum pernah mendapat bantuan yang menunjang kebutuhan nelayan pesisir.

