3 Programer Cilik Jadi Juara dengan Laptop Pinjaman

Diterbitkan oleh pada Ahad, 6 September 2015 14:31 WIB dengan kategori Pendidikan dan sudah 1.106 kali ditampilkan

Tim peserta INAICTA asal Garut yang sempat kekurangan dana ke Jakarta, ternyata juga belajar dengan fasilitas serba minim.


Namun walau serba terbatas, hasil karya Fazil, Raka, dan Rafli yang tergabung dalam Steam Club Indonesia itu menjadi pemenang di ajang INAICTA tahun 2014 lalu dari kategori SD-SMP.



"Untuk memakai laptop saja mereka harus bergantian, kadang pakai laptop saya juga," terang salah satu pendamping tim INAICTA asal Garut, Dewis Akbar saat dihubungiKompasTekno, Minggu (6/9/2015).



Diceritakan Akbar, baik Fazil, Raka, dan Rafli ketiganya sama-sama tidak memiliki laptop untuk mengerjakan proyek aplikasinya. Ketiganya menurut Akbar menggunakan laptop dari kelompok belajarnya, yaitu Steam Club Indonesia.



Namun diakui Akbar, jumlah laptop yang mereka miliki tidak sebanding dengan jumlah anggota kelompok belajar. "Bayangkan, tiga laptop untuk 22 orang dipakai gantian," terangnya.



Laptop-laptop tersebut juga merupakan hasil sumbangan dari pemerintah, salah satunya dari Kementerian Komunikasi dan Informatika yang memberikan hadiah sebesar 200 dollar AS saat mereka mengikuti ajang APICTA 2014.



"Uang itu dipakai untuk membeli laptop," ujar Akbar.



Sesuai dengan singkatannya, Steam Club yang didirikan oleh Akbar adalah kelompok belajar yang mengumpulkan siswa-siswa di Garut yang ingin belajar tentang Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics (STEAM).



Kelompok ini dulunya bernama Raspberry Pie Garut. Namun karena semakin sedikitnya peminat komputer mini Raspberry, maka kelompk tersebut berganti nama menjadi Steam Club Indonesia.



Fazil, Raka, dan Rafli yang tergabung dalam kelompok tersebut tahun lalu mewakili Garut di ajang INAICTA 2014, dan berhasil menyabet gelar aplikasi terbaik kategori SD-SMP, dengan membuat aplikasi Saron Simulator, aplikasi yang meniru alat musik tradisional Saron.



Saat itu, ketiganya masih duduk di bangku sekolah dasar (SDN Regol 10 Garut), mengalahkan peserta-peserta lain dari kalangan SMP.



Kini, Fazil, Raka, dan Rafli yang sudah bersekolah di SMP yang berbeda-beda, yaitu Pondok Pesantren Darussalam Kersamanah, SMPN 1 Leuwigoong, dan SMPN 2 Garut. Mereka membuat aplikasi Buku Tamu Android.



Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna menulis buku tamu lewat smarphone, termasuk memberikan detil informasi nama, alamat email, serta berfoto selfie di buku tamu elektronik tersebut.

(kompas)