Bang Jack, Juru Parkir yang Membangun Sekolah Gratis

Diterbitkan oleh pada Ahad, 20 September 2015 06:03 WIB dengan kategori Pendidikan dan sudah 1.694 kali ditampilkan

Juru parkir Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad), Undang Suryaman, bukanlah juru parkir kebanyakan. Dari hasil bekerja sehari-hari, lelaki 39 tahun itu mampu mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Taman Pendidikan Alquran (TPA) gratis bagi warga sekitar Desa Babakan Loa, Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung.

 

"Saya inisiatif mendirikan sekolah gratis karena teringat latar belakang pribadi yang dahulu ingin sekolah, namun terbentur masalah dana," kata Undang pada Dies Natalis Fikom Unpad ke-55 di Kampus Fikom Unpad Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Sabtu (19/9), kemarin.

 

TK dan TPA itu diberi nama Araudhatul Jannah. Saat ini, kedua sekolah itu telah menampung sekitar 130 peserta didik yang sebagian besar merupakan anak-anak sekitar Desa Babakan Loa.

 

Pria yang akrab disapa Bank Jack itu masih mengingat ketika dia mulai mendirikan sekolah itu pada empat tahun lalu. Dengan memakai area Masjid sebagai kelas, Udang hanya mampu mengumpulkan 18 orang. "Dan muridnya masih anak dari satu RT, tapi sekarang sudah meluas," katanya. 

 

Bertambah tahun, jumlah murid TK dan TPA Araudhatul Jannah terus bertambah. Undang pun kesulitan mendapat bangunan yang bisa dipakainya untuk kelas-kelas sekolah. Sementara, penghasilannya tidak cukup jika harus mengontrak bangunan. 

 

Namun semangat Undang tak berhenti. Ia pun memanfaatkan rumah mertuanya untuk sekolah. Rumah itu diberi sekat sebagai ruang belajar mengajar. "Sejak satu tahun lalu kami menggunakan ruang tambahan ini (rumah mertua) yang mampu menampung 30 hingga 40 orang, sudah lumayan meskipun sebenarnya masih cukup sempit juga," katanya.

 

Undang mengaku beruntung karena memiliki keluarga dan teman sejawat yang selalu mendukungnya. Mereka bahkan banyak membantu, salah satunya dengan menjadi relawan tenaga pengajar tanpa upah bagi para siswa TK dan TPA Araudhatul Jannah. "Bantuan seperti buku sekolah juga mulai berdatangan," kata dia.

 

Undang menjelaskan, ilmu yang diajarkan pada para siswa TK dan TPA Araudhatul Jannah lebih berorientasi pada pendidikan agama, meski tetap mengajarkan pengetahuan umum seperti sekolah lainnya. "Yang paling utama itu belajar shalat dan baca Iqra, setelah itu baru masuk ke palajaran, kurikulum pelajarannya sudah sesuai," kata dia.

 

Ia berusaha keras untuk mengembangkan sekolahnya itu. Meski terkendala dana pengembangan yang tidak sedikit, namun ia tetap menjaga semangat agar sekolahnya tetap bisa menjadi solusi bagi warga di sekitarnya, sekaligus memfasilitasi siswa yang membutuhkan pendidikan usia dini.

 

"Dana masih ala kadarnya, maka dari itu kita belum mampu membayar guru, jadinya tidak terlalu banyak yang mau ikut mengajar, tempat yang sempit juga masih jadi kendala," kata pria yang telah mengatur parkir di Fikom Unpad sejak 1992 itu.

 

Menurut dia, banyak orang lain yang memiliki cita-cita yang sama seperti dirinya untuk mebantu sesama. Namun mereka belum berani mewujudkannya. "Kekurangan materi jangan menjadi halangan untuk bergerak membantu sesama, selama niatnya ikhlas tidak untuk mengejar keuntungan, pasti akan selalu ada jalan," kata dia menambahkan.


(rol)