Pemerintah Tak Perhatikan Etika Politik Saat Batalkan Proyek KA Cepat Dengan Jepang
Saat ini Indonesia sedang memasuki babak baru hubungan dengan Jepang. Pembatalan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang ternyata kemudian dimenangkan oleh China tanpa beauty contest ulang yang melibatkan kedua negara, sulit dimengerti dan sangat disesalkan oleh Pemerintah Jepang, sebagaimana yang disampaikan oleh Yoshihide Suga Sekretaris Kabinet dalam konferensi Pers di Tokyo, Selasa (29/9/2015).
Tantowi Yahya wakil ketua Komisi I DPR RI mengatakan, untuk masyarakat Jepang yang terbiasa menjunjung kesopanan dan etika, gesture politik yang ditunjukkan Suga tersebut menunjukkan ketidaknyamaan yang sudah mencapai dosis tinggi Pemerintah Jepang terhadap Indonesia.
"Bagi Jepang sebagaimana yang saya tangkap dari pembicaraan dengan pejabat-pejabat penting mereka, kalah dalam persaingan bisnis adalah biasa. Tapi "dikalahkan" dengan cara-cara yang tidak etis menjadi hal yang tidak biasa," ujar Tantowi kepada suarasurabaya.net, Kamis (1/10/2015).
Dia menjelaskan, kejadian ini sedikit banyak akan berpengaruh kepada hubungan kedua negara kedepan. Seharusnya keputusan strategis yang akan diambil Pemerintah tidak boleh hanya dilihat dari perspektif untung rugi secara ekonomi, tapi juga secara politik.
"Dalam hubungan luar negeri, jalinan persahabatan dua negara yg bermuara pada sikap saling menghargai, saling menghormati dan saling membantu ketika sedang dalam kesulitan adalah buah dari proses diplomatik yang panjang dan melelahkan.Sungguh disayangkan apabila dikorbankan demi kepentingan pragmatis dan jangka pendek," pungkasnya.
(sbynet)

