Usai Tragedi Salim-Tosan, Gubernur Jatim Ragu Tutup Tambang Ilegal

Diterbitkan oleh pada Jumat, 9 Oktober 2015 16:16 WIB dengan kategori Nasional dan sudah 686 kali ditampilkan

Gubernur Jawa Timur Soekarwo masih gamang antara menutup atau tidak sejumlah tambang ilegal di Kabupaten Lumajang. Alasannya, dia masih harus mempertimbangkan aspek kesejahteraan dan keadilan.

 

"Persoalannya bukan ditutup, dihentikan atau tidak. Banyak masyarakat yang hidupnya dari situ (tambang). Jika demikian harus dilegalkan. Ketika akan dilegalkan merusak lingkungan atau tidak?" kata Soekarwo, Jumat (9/10). 

 

Untuk itu, lanjut dia, menyikapi persoalan ini, harus melibatkan jajaran kepolisian, kejaksaan dan pemda setempat untuk melakukan evaluasi. "Pada pelaksanaannya nanti, jangan sampai penegakan hukum sampai menimbulkan masalah bagi masyarakat," ucapnya.

 

Menurut orang nomor satu di Jawa Timur ini, dalam penegakan hukum, bukan atas nama peraturan saja, melainkan juga harus mempertimbangkan aspek kesejahteraan dan keadilan. Sehingga langkah melibatkan polisi, kejaksaan dan pemda setempat sangat penting.

 

Saat ini, usai tragedi pembunuhan Salim Kancil dan penyiksaan Tosan pada 26 September lalu sebagai imbas pro kontra penambangan di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, beberapa pembangunan infrastruktur terhenti. 

 

"PU Bina Marga Pemprov Jatim tidak bisa membangun karena tidak ada pasir. Bayangkan kalau dilarang, terus bagaimana dengan mata pencaharian masyarakat. Meski hak Pemprov (Jatim), tapi kan ada rekomendasi dari bupati (untuk menutup atau tidak tambang pasir ilegal di Lumajang," tegas gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini.

 

Seperti diketahui, aktivitas tambang pasir besi ilegal di Lumajang, mendapat perlawanan warga yang dikomandoi Salim dan Tosan. Protes warga ini, karena aktivitas tambang ilegal itu, menyebabkan sawah-sawah warga tergenang air laut. 

 

Akibat penentangan itu, Salim dibantai secara sadis di hadapan warga dan anak-anak usia dini yang tengah mengikuti pelajaran PAUD. Sementara Tosan mengalami luka-luka serius.

 

Usai tragedi ini, muncul wacana untuk menutup penambangan pasir ilegal. Soekarwo mengajak jajaran kepolisian, kejaksaan dan pemda setempat untuk melakukan evaluasi bersama.


(merdeka)