Daftar Hasil "Jualan" Jokowi dari Amerika
Pekan lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertandang ke Amerika Serikat (AS). Dalam kunjungannya tersebut, banyak agenda yang dilakukan Presiden dan rombongan.
Persoalan ekonomi menjadi prioritas yang dibicarakan dalam pertemuan kedua negara tersebut. Setelah pulang ke Indonesia, apa yang dibawa Presiden Jokowi untuk rakyat Indonesia?
Di awal kunjungannya, Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi memperkirakan bakal membawa pulang komitmen investasi lebih dari USD20 miliar dari kunjungan kerjanya ke AS.
"Lebih dari USD20 miliar dari 19 perusahaan bermacam sektor yang akan dikerjasamakan," katanya di Blair House Washington DC, Senin 26 Oktober 2015.
Pada kesempatan yang sama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan dari sekian banyak deal business yang akan diumumkan atau ditandatangani, prosesnya sudah berjalan lama.
"Ada beberapa yang prosesnya sudah sangat lama, terutama yang non energi umumnya sudah cukup matang tinggal finalisasi. Kedatangan Presiden menjadi momentum bagi mereka," katanya.
Di Amerika, Jokowi bertemu dengan 250 Pengusaha, salah satunya adalah Executive Vice President Upstream Chevron James Johnson dan Vice Chairman General Electric John Rice.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said menjelaskan, dalam pertemuan dengan Chevron tersebut, Presiden Jokowi menjelaskan percepatan penerapan paket-paket kebijakan ekonomi, dimana 60 persen perizinan di bidang ESDM sudah dipangkas.
Sudirman Said bilang, ada beberapa proyek yang disiapkan, termasuk proyek besar Indonesia Deep Water Development (IDD), yang merupakan proyek terpenting yang dimiliki Indonesia.
Tidak hanya di sektor energi, Franky mengatakan, dari kunjungan ke AS, Indonesia mendapat investasi USD2,4 miliar di sektor makanan dan minuman.
Dia bilang, rencana investasi Amerika ke Indonesia akan tertuju di sektor makanan, minuman dan tembakau sebesar USD1 miliar dalam bentuk perluasan investasi.
Selain itu, juga ada sektor kelistrikan USD600 Juta, hilirisasi sektor agro sebesar USD750 Juta, industri alat berat atau permesinan USD12 juta, serta sektor kertas dan percetakan, masing-masing dalam bentuk statement of investment.
"Ini merupakan bagian dari kesepakatan bisnis Indonesia dan Amerika senilai USD20 Miliar. BKPM terus mengawal agar rencana investasi yang sudah disampaikan tersebut dapat segera direalisasikan terutama yang perluasan, serta masuk dalam tahap pengajuan izin prinsip untuk yang masih dalam bentuk statement of investment,” ujar Franky, Selasa 27 Oktober kemarin.
Dari rencana investasi yang disampaikan oleh investor Amerika dalam kunjungan di Washington D.C. ini, BKPM melihat target diversifikasi investasi Amerika Serikat ke Indonesia tercapai, karena sektor usaha yang dimasuki di luar sektor pertambangan.
Rangkaian usaha Jokowi dalam mengejar investasi dinilai tepat. Pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, melihat kunjungan Jokowi ke Amerika yang berhasil membawa sekira Rp275 triliun untuk kesepakatan bisnis, diprediksi membuat investor Amerika sadar menariknya investasi di Indonesia.
"Itu bagus semacam promosi awal. Walaupun Amerika bukan satu-satunya investor di Indonesia," jelas Purbaya kepada Okezone, Kamis 29 Oktober.
Meski demikian, Purbaya menyatakan hal tersebut perlu dibarengi dengan kondisi iklim usaha yang baik di Indonesia. Sebab, dikhawatirkan investor akan kabur jika tidak ada perbaikan pada iklim tersebut.
"Ke depan tergantung kita menciptakan iklim investasi yang menarik. Kalau jelek mereka akan kabur, kalau bagus bisa mengundang investor baru," katanya.
(okz)

