Harga Beras Merangkak Naik di Lingga

Diterbitkan oleh pada Rabu, 4 November 2015 10:59 WIB dengan kategori Lingga dan sudah 885 kali ditampilkan

LINGGA - Harga beras di sejumlah warung-warung sembako dan pasar di Daik, Ibukota Kabupaten Lingga, merangkak naik harganya hingga Rp 30 ribu perkarung 25 kg nya, akibat berkurangnya pasokan ke Lingga.

 

Hal ini membuat masyarakat setempat semakin menjerit dan panik, pasalnya kenaikan harga ini berlangsung di tengah kondisi perekonomian yang tidak membaik.

 

Seperti yang dikatakan seorang warga Cening, Daik Lingga, Mazlan, kenaikan harga beras dan gula ini sangat meresahkan masyarakat. Hal ini mengingat kondisi perekonomian di Lingga saat ini sangat tidak kondusif seiring dengan melemahnya perekonomian negara

 

"Sekarang ini kita sedang mengalami defisit, lapangan pekerjaan juga sulit tapi harga beras dan sembako lainnya malah naik," kata dia, Selasa (3/11)

 

Sementara informasi di lapangan, untuk harga pasaran beras Lonceng perkarung 25 Kilogram mencapai Rp 270 ribu. Merk Anggur lebih mahal, perkarung 25 Kilogram naik menjadi Rp 320 ribu. Sedangkan beras Merk Arwana Rp 270 ribu per 25 Kilogram. Padi Unggul Rp 260 ribu per 25 Kilogram, Beras Tuna per 20 kilogram seharga Rp 256 ribu, beras Anak Terbang per karung 25 kilogram mencapai Rp 300 ribu.

 

Salah satu pedagang di Pasar Kampung Cina Daik, Aseng  mengatakan kenaikan harga beras terus saja terjadi. Sebagai pedagang, distribusi barang khususnya beras, diakuinya sangat sulit sampai ke Lingga. Beras-beras yang masukpun, diakuinya banyak beras impor. 

 

"Beras naik bahkan hampir setiap trip. Sekarang, naik sampai Rp 30 ribu perkarungnya," ujarnya.

 

Dikatakan Aseng, sebagai pedagang ia ikut arus saja. Kalau barang datang mahalpun terpaksa menaikkan harga jual. Masalahnya, barang-barang sulit masuk ke Lingga.

 

Selama ini pedagang beras di Lingga lebih sering mengambil stok beras dari Pancur, Kecamatan Lingga Utara. Sebagian besar kebutuhan beras didatangkan langsung dari Batam maupun Tanjungpinang. Sementara pelabuhan bongkar muat di Sungai Daik, yang menjadi pintu masuk kapal-kapal dari Jambi, harga beras lokal tidak jauh berbeda dengan beras impor. 

 

"Ada juga beras lokal yang masuk dari Jambi. Tapi harganya lebih mahal," imbuhnya.

 

Meski tidak masuk dalam kawasan FTZ seperti Bintan, Batam dan Karimun, tak elak beras-beras impor juga beredar luas di Lingga. Bahkan merajai pasar. Kualitas import yang telah lama jadi konsumsi warga pesisir dengan mutu dan kualitas baik, membuat warga jelas lebih memilih beras impor.

 

Sementara beras bulog pemerintah yang masuk ke Lingga hanya jatah raskin. Yang lebih miris lagi, wilayah pesisir bukanlah wilayah penghasil beras, sehingga kebutuhan beras harus didatangkan dari luar baik Batam, Tanjungpinang maupun dari Jambi