Manajemen Waktu di Tahun Baru

Diterbitkan oleh pada Senin, 28 Desember 2015 20:21 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.233 kali ditampilkan

Wah! Rasanya 2015 baru sebentar saja dilalui, tapi kini kita sudah masuk dipenghujung minggunya. Sebelum memasuki detik-detik 2016, mayoritas kita penuh suka cita mempersiapkan pesta-pora untuk merayakannya. Beraneka macam hiasan, warna-warni hiburan, terompet beraneka bentuk dan ukuran. Sangat disayangkan bahwa meriahnya perayaan tahun baru tidak mengidentikkan tentang semangat baru dan harapan cerah.

 

Namun kebanyakan mereka berpesta hanya karena sekedar mengekor, ikut-ikutan, lebih sedihnya lagi tak memiliki planing dan capaian hidup yang jelas. Mengapa demikian? Sebagian mereka menjawab "Hidup itu jalani saja seperti air mengalir", orang yang berkata seperti ini lupa bahwa,  "Air hanya mengalir Ke tempat yang lebih rendah".

 

Kaum Muslimin Indonesia, ternyata lebih meriah merayakan tahun baru Masehi ketimbang tahun baru Hijriyah. Kenapa demikian? Boleh jadi karena mereka lebih akrab dengan budaya barat, penanggalan masehi, dan syiar agama non Islam, ini dapat menjadi salah satu barometer tentang seberapa komit dan loyal umat Islam terhadap syiar agamanya.

 

Pemikiran barat telah meracuni kita bahwa waktu adalah uang, sehingga sering didapati orang yang tidak mau berkontribusi meluangkan waktu untuk kegiatan sosial kalau tidak meghasilkan materi. Mari kita buka lembaran silam yang berdebu di pustaka zaman, betapa umat Islam generasi awal begitu menaruh perhatian besar dalam pengelolaan waktu, "Waktu adalah pedang" yang akan memenggal leher orang yang tidak adil dalam menggunakannya. Diantara dua itu ada yang menyebut bahwa waktu itu fleksibel seperti karet, sering disebut "jam karet", diundangan rapat acaranya jam 07.00 eh pada datang jam 08.00, sehingga terbentuklah jamaah jam karet, sudah tahu sama tahu, malu datang terlalu dini, karena beranggapan yang lain juga datang terlambat.  Dalam sebuah manajemen organisasi atau perkantoran misalnya, demi ketepatan waktu pula penting kesadaran pimpinan untuk memfasilitasi kedisiplinan anggota, semisal ada finger printing, konsekuensi keterlambatan yang rasional juga penghargaan bagi mereka yang menghargai waktu.

 

Syarat untuk menjadi negara maju adalah menghargai waktu. Sudahkah kesadaran menghargai waktu, menjadi kesadaran kolektif bagi kita Indonesia?

 

Segala yang Allah gunakan untuk bersumpah berarti sangat penting, ialah waktu, Allah bersumpah demi waktu. Banyak mereka yang berada dalam kerugian, kecuali orang yang menggunakan setiap waktunya untuk beramal shalih dan menasehati dalam kebaikan dan kebenaran, itulah umur, umur adalah penggunaan waktu untuk kebermanfaatan diri secara luas, di luar itu berarti mati tanpa kontribusi, sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW "Manusia yang terbaik adalah yang bermanfaat untuk orang lain".

 

Waktu bisa membuat yang halal jadi haram. Contohnya sholat yang tidak dilakukan pada waktunya maka sholatnya jadi batal, puasa sehari semalam tanpa berbuka, maka tertolak, berhaji tidak pada waktunya, dan banyak lagi ibadah yanv seharusnya berpahala malah menjadi sia-sia bahkan dosa.

 

Untuk tepat waktu adalah kebiasaan yang tidak mudah. Menambahkan setengah atau seperempat jam masuk kerja, mungkin bisa membantu, tapi tidak bagi yang terbiasa terlambat, sebab ia tahu yang demikan ia menipu diri sendiri, berleha-leha masih ada waktu.

 

Rumah adalah tempat bermula budaya tepat waktu. Anak yang telat bangun pagi tidak sholat subuh jangan salahkan orangtua jika terlambat diantar datang ke sekolah. Anak yang terlalu lama persiapan akan merusak rencana liburan keluarga. Konsekuensi demikian akan membekas pengalaman yang tak terlupa, menjadi karakter hingga dewasa, disiplin membangun bangsa.

 

Tahun baru bukan untuk pesta-pesta. Tapi merupakan salah satu moment penting untuk penanaman karakter disiplin bagi anak dan bagi kita, untuk apa hura-hura tak jelas, lebih baik duduk di rumah saling evaluasi anggota keluarga, rekomendasi perbaikan di masa hadapan, jatah umur berkurang, maka berkurang pula waktu untuk bermanfaat. Ingat! Betapa banyak orang yang ingin kembalii hidup untuk bermanfaat di muka bumi, tapi mereka terlambat. Barang sedetikpun waktu takkan berundur kebelakang.


Rudi Rendra, S.Ud

Humas PD KAMMI Tanjungpinang

Guru di SDIT As-Sakinah Tanjungpinang