Peradaban dan Sejarah, Pedulikah Kita?

Diterbitkan oleh pada Selasa, 12 Januari 2016 20:44 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.485 kali ditampilkan

Untuk zaman yang serba bisa kini, banyak informasi yang dapat diraup dengan mudah dan cepat. Perkembangan teknologi yang pesat seakan membuat dunia dalam genggaman. Semua tergantung pada diri kita, mau diapakan dunia yang telah digenggam ini. Hancur majunya peradaban suatu bangsa di masa depan adalah buah dari tindakan kita sebagai pengelolanya.

 

 

Kembali ke sejarah masa lampau, bangsa Indonesia memulai peradaban awalnya  pada masa berburu dan berpindah-pindah tempat. Ketika wilayah Indonesia bagian barat menyatu dengan daratan Asia dan Indonesia timur dengan daratan Australia, terjadi perpindahan fauna dan manusia dari satu pulau ke pulau lain. Perpindahan ini kemudian melahirkan peradaban budaya baru di Indonesia, salah satunya tradisi bercocok tanam. Tradisi ini terus berlangsung dalam proses evolusi hingga masa sejarah sekarang yang disertai dengan lahirnya organisasi sosial dan aliran-aliran kepercayaan.

Muncul pertanyaan, jika kita belum lahir di masa itu lantas bagaimana kita dapat mengetahui secara rinci sejarah masa lalu? Mulai dari zaman prasejarah, lahirnya kerajaan di awal sejarah, era kolonial hingga ke tahap Indonesia merdeka. Tentu semua itu diperoleh melalui ‘warisan abadi’ mereka yakni tulisan. Manusia pra sejarah meninggalkan jejak lewat tulisannya di batu atau dinding goa. Ilmuwan terdahulu menuang ide atau teori lewat tulisan. Para pejuang menceritakan kehidupannya di zaman penjajahan melalui tulisan juga.

Lantas apa intinya? Tulisanlah yang melahirkan peradaban, membuat segala aspek kehidupan berkembang dari masa ke masa. Walaupun tidak secara lisan, namun tulisan mereka cukup menceritakan segalanya. Tulisan merupakan sumber inspirasi, inspirasi melahirkan  inovasi yang menjadi modal utama terciptanya peradaban. Contohnya bangsa Yunani yang dikenal sebagai salah satu peradaban di dunia karena banyaknya jejak-jejak tulisan dari para cendekiawannya. Begitu juga dengan peradaban Mesir, Babilonia, Cina hingga Romawi. Tak salah jika ada ungkapan “mustahil peradaban lahir tanpa tulisan”.

Tinggi rendahnya peradaban bangsa ada di tangan generasi penerusnya. Apa yang dinikmati sekarang adalah bentuk peradaban yang lahir dari tulisan generasi terdahulu. Sekarang kita yang mengemban amanah itu, menulis untuk membangun peradaban di masa yang akan datang. Menulis yang dimaksud adalah menulis sesuatu yang bermutu, positif, dan dapat menginspirasi pembaca untuk melakukan sesuatu yang positif. Yang menjadi tanda tanya besar, apakah budaya menulis masih berkembang seperti yang dulu? Mengingat generasi penerus bangsa Indonesia terlena dalam euforia teknologi, sehingga  kini menulis adalah hal yang sulit dilakukan.

Bagaimana tidak, kehadiran teknologi khususnya gadget (perangkat elektronik yang canggih, praktis dibawa dan terbaru)  yang seharusnya mempermudah kita menulis malah digunakan untuk hal yang tidak penting. Berdasarkan hasil survei remaja yang berusia 13-19 tahun di enam kota besar, 91,2%  remaja memiliki akun media sosial pada tahun 2011. Setahun kemudian meningkat menjadi 97,5%.  Sekarang sudah memasuki tahun 2016, tentunya persentase tersebut terus meningkat. Berbanding lurus dengan menjamurnya media sosial serta fasilitas yang memberikan kesempatan bagi pengguna untuk mendokumentasikan setiap aspek dari hidupnya. Apa saja yang mereka lakukan? Curhat sana sini di media sosial, saling menyindir dan menghujat, posting foto dan status sebanyak mungkin, hingga keranjingan game online dan menonton video yang tidak ada unsur pendidikannya. Itu baru seputar remaja, belum lagi menyangkut orang dewasanya.

Jika pandai membagi waktu tidak masalah. Tapi apabila dilakukan setiap hari dapat mengakibatkan candu teknologi. Orang yang sudah kecanduan akan sulit berkonsentrasi penuh untuk menuang ide karena apa yang ada di fikirannya hanya satu, gadget. Ini yang membuat menulis menjadi sulit dan parahnya timbul hasrat tidak ingin mencoba sama sekali. Maka tak heran budaya menulis di Indonesia perlahan-lahan memudar, tambah lagi adanya anggapan bahwa menulis hanya untuk kaum akademisi.

Sebagai generasi penerus, dimana letak tanggungjawab kita dalam mengemban amanah yang diwariskan? Sebegitu acuhnya kah kita dengan masa depan peradaban bangsa Indonesia? Banyak peradaban bangsa yang semulanya maju dan hancur dalam waktu yang sekejap karena bencana alam, bukan akibat kelengahan manusianya. Jangan sampai Indonesia menjadi peradaban pertama yang hancur karena ulah kita sendiri.

Untuk itu mari hidupkan kembali budaya menulis. Tidak ada batasan siapa yang wajib dan tidak untuk menulis, itu adalah tugas kita bersama sebagai bentuk kepedulian terhadap peradaban bangsa. Bagi yang masih belum memiliki niat untuk menulis, penulis akan berikan tipsnya sebagai berikut:

1.         Memotivasi diri sendiri

Suparto Brata, sastrawan senior penulis buku Pertempuran 10 November 1945, pernah mengatakan, “orang yang membaca dan menulis adalah orang yang maju mengikuti jaman. Orang primitif tidak membaca dan menulis, tetapi hanya melihat dan mendengar”.

Siapapun tidak akan terima dikatakan orang primitif. Dengan adanya ungkapan seperti ini dapat memompa semangat menulis dan membaca masyarakat.

 

2.         Mengikat ilmu

Manusia tempatnya salah dan lupa. Kita memiliki daya ingatan dan daya pikiran terbatas. Agar ilmu itu abadi sepanjang masa, maka kita harus mengikatnya lewat tulisan.

 

3.         Mewariskan kearifan hidup

Pepatah mengatakan, “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang”, lalu apa yang akan kita tinggalkan jika kita mati? Harta? Apalah arti harta yang nantinya akan jadi rebutan orang. Bukan bermanfaat, malah jadi petaka. Alangkah baiknya selain meninggalkan harta, tinggalkanlah ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak. Dengan ilmu yang telah kita ikat lewat tulisan, siapapun dapat mengambil manfaatnya walau kita telah tiada. Karna ilmu yang bermanfaat juga merupakan salah satu amal yang tidak akan pernah putus-putusnya.

 

4.         Pilih gaya sendiri

Tak harus dengan kata-kata baku, karena tak semua orang akan mengerti tulisan kita. Kita bebas memilih menulis dengan gaya sendiri. Asalkan tidak menyinggung SARA dan berkata-kata tidak pantas. Menulis dengan gaya sendiri akan memudahkan kita dalam menuangkan ide.

 

5.         Mulai dari yang ringan

Menulis tak harus tentang politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain. Mulailah dari hal yang ringan, terus lakukan dan nikmati. Jika sudah terbiasa, tulislah hal-hal yang lebih menggugah inspirasi dan mengandung banyak informasi.

Ayo kita menulis! Segera jadikan diri kita bagian dari pembangunan peradaban Indonesia.