Usai Gelar Pertunjukan, Megad Syah Alam Gelar Workshop Musik dan Tari

Diterbitkan oleh pada Selasa, 12 Januari 2016 05:16 WIB dengan kategori Lingga dan sudah 1.373 kali ditampilkan

LINGGA - Usai menggelar Malam Purnama Bahasa yang berkonsep sebuah pertunjukan seni bahasa dan sastra klasik di depan musem baru Linggam Cahaya dua malam berturut-turut. Sanggar Seni Megad Syah Alam kembali melanjutkan kegiatannya dengan menggelar Workshop Musik dan Tari, di Balai Rung Sri, Replika Istana Damnah, Senin (11/1).

 

 

Hadir narasumber dalam workshop tersebut yakni Tom Ibnur, Maestro Tari dan tenaga pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang juga merupakan penggagas Zapin Nusantara bersama Anggara Satria, Komposer dan penggiat seni tradisi yang sudah lebih dari 9 tahun berproses seni bersama Megad. Selain itu hadiri juga Dedi Arman, dari Balai Pelestarian Nilai dan Budaya (BPNB) Tanjung Pinang.

 

 

Sesi workhsop berlangsung santai dengan konsep lesehan dan membahas seni pertunjukan mulai dari pukul 09.00 WIB sampai 15.00 WIB sore. Workshop ini menggali lebih jauh seni tadisi lokal kabupaten Lingga dan menyamakan persepsi untuk seni tradisi khususnya membahas lebih banyak seni Zapin Daik yang menjadi pusat tamadun yang gemilang lebih dua ratus abad yang lalu. Zapin sangat erat hubungannya dengan Islam yang berkembang dalam tarekat Neqsabandiah yang beraliran sufi.

 

 

Pantauan dilapangan, puluhan peserta ikut dalam kegiatan ini. Mulai dari siswa-siswa SD se kelurahan Daik, SMA N 1 Lingga, SMP 1 Lingga, MTs, SMK N 2 Lingga, Sanggar Langgam Selatan, Sanggar Megad Rambai, Sanggar Sri Pelangi, Sri Baiduri, Sri Mahkota Lingga dan Sanggar Rapang Kencana Penuba. Selain itu, hadir juga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lingga, Dewan Kesenian kabupaten Lingga, Pemuda Berani dan Radio Bunda Tanah Melayu (RBTM).

 

 

"Kekhasan seni Zapin ini ada masing-masing daerah. Menjadi jati diri. Lokal itu, harus menjadi sesuatu yang tetap dikedepankan. Agar tetap dalam kawalan ekspresi yang sesuai," ungkap Tom Ibnur.

 

 

Selain membahas seni, keindahan alam Lingga di katakan Tom, juga menjadi salah satu keharmonisan dalam berkesenian. Sejak 20 tahun terakhir kunjungannya ke Daik Lingga, Tom menilai banyak yang sudah berubah. Namun ia berharap, Daik tidak kebablasan menjadi sebuah kota yang penuh hiruk pikuk sehingga menghilangkan nilai-nilai sosial yang sudah hidup dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

 

 

"Masyaalah, Tuhan memberi tempat yang indah yaitu Daik. Daik tak perlu menjadi kota modren, keharmonisan, hubungan sosial, kampung tua dan sejarahnya tetap harus dijaga oleh generasi mudanya sebagai jati diri. Jika memang harus di bangun, perlu penataan dan radius agar tidak merubah Daik menjadi kota dengan hutan beton. Daik akan menjadi Kota Budaya dengan keasriannya," jelasnya.

 

 

Kegiatan ini, terang Tom lebih kepada menyatukan persepsi bagi para pelaku seni di Lingga maupun seniman untuk lebih menggali khazanah lokal. Hal ini akan menjadi kekhasan yang kental.

 

 

"Di sini, punya ciri khasnya sendiri. Ini yang harus digali," tambahnya sambil berbagi dalam obrolan santai dan mengajak sanggar-sanggar ikut serta memperaktikkan tarian zapin di Lingga.

 

 

Sedangkan Anggara Satria, yang sudah lebih 9 tahun berproses bersama-sama Megad di Daik, mengatakan kegiatan ini, narasumber mengajak para peserta untuk membangun kesadaran berkesenian.

 

 

"Saya memang tidak lahir di Daik, tapi saya orang Daik. Materi kita lebih kepada membangun kesadaran untuk membina lebih dalam seni Daik. Kami berkeinginan bukan hanya Megad, tapi seni di Lingga harus ada kesadaran," terangnya.

 

Kegiatan ini merupakan Bantuan Fasilitasi Rumah Budaya 2015, Balai Pelestarian Nilai dan Budaya (BPNB) Tanjung Pinang dari kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.