Pendidikan Menghasilkan Orang Pintar Bukan Terdidik

Diterbitkan oleh pada Kamis, 14 Januari 2016 16:50 WIB dengan kategori Opini dan sudah 5.492 kali ditampilkan

Saat ini banyak sekali terjadi tindakan yang memalukan di negeri ini seperti korupsi, suap, dan masih banyak lagi. Namun, anehnya para pelaku tindak kejahatan tersebut adalah orang-orang pintar yang bergelar sarjana dari berbagai lulusan universtas yang ternama. Melihat fenomena yang terjadi saat ini, sepertinya ada yang salah dengan pola pendidikan formal di Indonesia dan semestinya harus dikaji ulang.

 

 

 

 

Pola pendidikan formal saat ini hanya mengajarkan ilmu dunia sehingga banyak menghasilkan orang pintar tetapi sayang, mereka tidak terdidik dan memiliki budi pekerti yang lemah. Akibatnya orang-orang pintar tersebut malah menjadi orang yang bejat, maling dan penindas kaum yang lemah. Padahal seharusnya mereka lah yang menjadi penolong dan pemimpin yang baik untuk menciptakan kemaslahatan bagi orang banyak. Terlebih lagi, saat ini banyak sekali orang yang berpendidikan tinggi dan mengaku beragama, tetapi tindakan mereka sangat memalukan dan meresahkan masyarakat.

 

Seperti, para dewan yang katanya “terhormat” banyak yang tertangkap tangan melakukan korupsi atau penyuapan. Parahnya lagi tindakan tersebut dilakukan bersama teman mereka yang juga katanya “terhormat”. Lebih miris lagi saat mereka tertangkap oleh pihak yang berwajib, mereka malah dengan santai dan melemparkan senyum yang lebar kepada masyarakat, seolah mereka senang dengan apa yang mereka perbuat.


Bukannya mereka malu dengan tindakan tersebut, sepertinya mereka tidak mengetahui atau tidak pernah diajari bahwa memakan uang yang bukan haknya adalah perbuatan dosa dan haram hukumnya bagi mereka dan keluarganya. Memang mereka sudah kehilangan akal sehat. Bahkan ada saja orang yang jelas-jelas terjerat kasus korupsi yang menjadi ketua atau pemimpin suatu instansi. Bukankah ini sangat memalukan? Oleh karena itu, sistem pendidikan formal yang ada saat ini harus segera direvisi dengan tidak hanya mementingkan hasil, tetapi lebih mementingkan suatu proses untuk mencapai suatu keberhasilan agar tidak lagi mencetak orang-orang pintar yang mengajari, bukannya orang-orang pintar yang mendidik