Sudahkah Budaya Malu Menjadi Bagian dari Diri Kita?
Budaya malu (shame culture) sejatinya merupakan sifat bangsa timur/ Asia termasuk Indonesia. Semestinya budaya ini diterapkan di berbagai lingkungan dan lapisan masyarakat. Dilingkungan pejabat publikmisalnya budaya ini menjadi cermin ketika pejabat publik tidak bekerja dengan baik dan tidak optimal.
Seharusnya slogan sindiran budaya malu diterapkan diberbagai tempat sesuai dengan posisinya. Malu datang terlambat, malu izi kerja dengan tujuan tidak jelas, malu melanggar lalu lintas, malu terlambat membayar pajak, malu melanggar peraturanmalu mencontek, malu berpakaian tidak sopan, dan lainnya.
Sebenarnya dalam agama ada hadist yang mengajarkan budaya malu : Dari ibnu umar ra ia berkata : Rasulullah SAW melewati seorang Anshar yang sedang memberikan nasehat kepada saudaranya karena pemalu, lalu Rasulullah SAW bersabda “biarkan ia pemalu. Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman” (HR Bukhari dan Muslim)
Malu dapat dibagi dua yaitu malu pada diri sendiri dan malu pada orang lain. Seseorang malu berbuat seperti merampok ataupun korupsi karena jika dia melakukan itu maka habislah harga dirinya di mata masyarakat. Itu semua wujud rasa malu pada orang lain. Jika ini tertanam kuat maka hanya ada 1 dari 1000 orang yang tidak memiliki budaya malu.
Namun bagaimana jika perbuatannya itu tidak diketahui orang lain ? Rasa Oleh karena itu perlu ditanamkan rasa malu pada diri sendiri. Rasa malu pada diri sendiri akan tumbuh jika seseorang memiliki keteguhan hati, nilai diri dan karakter yang kuat. Yang menjadi kendalinya adalah nilai-nilai yang diyakininya yang jika dia langgar dia akan malu pada dirinya sendiri. Nilai diri itu akan menjadi arah dalam tindakannya. Jika diyakininya disiplin adalah nilai yang harus dipegang teguh maka dia akan malu pada dirinya jika harus terlambat dengan sengaja dilakukan.
Mengintip budaya malu di berbagai negara seperti Amerika, anda bisa lihat bagaimana orang Amerika kebanyakan merasa bersalah jika menerobot aturan, melanggar lampu merah, meskipun tidak ada kendaraan yang lewat, ataupun terlambat membayar pajak.
Dalam dunia politik, kita harus bercermin kepada negara-negara yang sukses melestarikan budaya malu dikehidupanya, misalnya di Korea selatan salah satu mentrinya yang bertanggungjawab atas layanan energy telah mengundurkan diri hanya karna bebrapaa kali terjadi listrik yang padam. Hal ini menjadi pro kontra yang membuat mentri tersebut merasa besalah yang berujung pengunduran diri dari jabatannya.
Apakah bangsa kita sebenarnya menganut tradisi malau juga? Tentu saja. Jawabanya bisa sangat relatif. Bangsa kita juga mengenal budaya malu walaupun tidak setinggi jepang. Contohnya saja terlambat atau yang sering kita sebut “ngaret”. Pada sebuah acara kita sering mengeluh kalu acara tersebut tidak segera dimulai padahal lewat dari waktu yang dijadwalkan. Namun karena masyarakatnya menganut sistem toleransi maka keterlambatan-keterlambatan menjadi sebuah kebiasaan yang dimaklumi.
Di kampus, bagi mahasiswa yang terlambat selalu diperkenankan masuk dan tidak di jatuhi sanksi apalagi jika hanya terlambat 15 menit pasti masih boleh masuk itulah yang dipikirkan. Akan tetapi budaya seperti ini cukup sukses membentuk karakter anak bangsa yang tidak malu dating terlambat.
Menembuhkan budaya malu bukan hanya tugas para guru atau tenaga pendidik lainya, tetapi juga berasal dari diri sendiri yang diterapkan, kemudian biar orang lain meniru sikap yang kita lakukan.
Jika rasa malu itu tertanam dalam jiwa maka jadilah kita orang-orang yang berintegritas tinggi. Dengan integritas tinggi akan membangun keteguhan hati dan pemikiran dan kreativitas sehingga menjadi yang terbaik akan dapat diraih
Sudahkah tradisi malu menjadi bagian dari diri kita atau kita merupakan orang yang tidak tahu malu? Silahkan pikir sendiri.

