Bom Thamrin: Ada Jejak Bahrun Naim, Klaim Polisi Diragukan?
Polri mengindikasikan Bahrun Naim sebagai dalang tak lama setelah terjadi penembakan dan pengeboman di kawasan Thamrin, Jakarta, Kamis, 14 Januari 2016. Namun hingga kemarin polisi masih merahasiakan status hukum pria kelahiran Pekalongan, 6 September 1983, itu. "Kami masih rahasiakan dan belum bisa diungkap,” kata juru bicara Mabes Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan di Jakarta.
Ada dua soal yang masih terus didalami Polri untuk memastikan jejak Bahrun dalam teror yang hingga kemarin telah menewaskan 8 orang itu, termasuk empat yang diduga para pelakunya: Dian Joni Kurniadi, Afif alias Sunakim, M. Ali, dan Ahmad Muhazin. Dua hal itu meliputi transfer dana Bahrun Naim dari Suriah ke para pelaku teror dan keterkaitan Bahrun dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Suriah.
Menurut Anton, Polri sedang menyelidiki laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait dengan 10 laporan transaksi mencurigakan yang diduga mengalir ke pelaku teror di kawasan Thamrin. Sebelumnya, Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti menyebutkan dana tersebut ditransfer berkali-berkali dengan kisaran sebesar Rp 40-70 juta dari Suriah melalui Western Union, jasa pengiriman uang.
Kepolisian, kata Anton, bekerja sama dengan Interpol dan badan intelijen untuk mengintai Bahrun, yang ditengarai masih berada di Raqqa, Suriah. Dari data sementara yang didapatkan, Bahrun Naim dikenal sebagai pemimpin ISIS kawasan Asia Tenggara. “Yang mengkoordinir ISIS Indonesia di sana adalah Bahrun.” Data tersebut juga menyatakan Bahrun yang mengkoordinasi aksi teror itu.
Mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII), Al Chaidar, meragukan klaim Kepolisian. Ia menyebutkan otak serangan adalah Aman Abdurahman, pemimpin Tauhid Wal Jihad, pendukung ISIS yang kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Chaidar mengutip pertemuan Afif pada November 2014 dengan Aman. "Analisis saya bukan Bahrun, tapi yang di penjara itu."
Mantan anggota Jamaah Islamiyah, Nasir Abbas, juga mengatakan hal serupa. Ia menegaskan, otak peristiwa ini adalah Aman, yang mengendalikan aksinya dari dalam dan luar penjara. Ia pula yang memerintahkan Bahrun menangani masalah amunisi pada 2010 yang menyebabkannya dipenjara pada 2011. Bahrun diketahui keluar Indonesia pada Februari 2015.
Pendiri situs Arrahmah yang pernah ditahan 3 tahun karena kasus terorisme, Muhammad Jibriel Abdul Rahman, pun ragu akan klaim polisi. Ia menilai garis komando antara Afif dan Bahrun terlalu jauh. Bahrun, yang pernah menjadi tukang urut Aman dikeluarkan karena tidak sejalan. "Kalau ditarik benang merahnya, kemungkinan Afif ke Abu Jandal,” kata Jibriel. Abu adalah tokoh ISIS di Suriah.
Bahrun melalui rekaman suaranya di SoundCloud membantah terlibat. “Lha wong saya jarang online, dikira ada komunikasi. Komunikasi dari Hong Kong apa?” kata pemilik suara itu. Pihak keluarga mengkonfirmasi bahwa 99 persen suara itu mirip Bahrun. “Suaranya memang seperti itu,” kata adiknya, Dahlan Zaim, kemarin. “Kami berharap Mas Bahrun segera pulang dan memberi penjelasan.”
Ketua Tim Pembela Muslim, Mahendradatta, menambahkan, keluarga Bahrun saat ini tidak tahu anaknya di mana. Menurut ayahnya, Bahrun izin sekolah dan memperdalam ilmu agama pada Januari 2015. “Bapaknya hanya tahu dia ke Saudi atau negara-negara di Timur Tengah,” ucap mantan pengacara Bahrun ini. “Ya dibuktikan saja,” tuturnya, soal tudingan Polri bahwa kliennya adalah dalang teror Thamrin.

