Petani Polewali Gagal Panen

Diterbitkan oleh pada Kamis, 21 Januari 2016 19:38 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.169 kali ditampilkan

Musim kemarau yang tengah melanda saat ini membuat petani di polewali menjerit. Sawah mereka yang sudah ditanami padi kini mengalami kekeringan karena tidak mendapat pasokan air. Gagal panen mengancam dan petani akan menanggung kerugian yang cukup besar. Di musin tanam kali ini dia merugi cukup besar. Sebab air tidak lagi mencukupi untuk kebutuhan sawahnya.

 


Kalaupun ada tanaman padi yang bisa diselamatkan, itupun karena adanya upaya yang lakukan dengan menarik air dari sungai menggunakan mesin pompa. Hal yang sama juga dilakukan Hafirman, petani asal Desa Polewali, Kecamatan Gantarang. Karena kemarau yang bekepanjangan, dia memastikan untuk panen kali ini dia mengalami kerugian.“Biasanya pada bulan Agustus masih ada hujan. Tapi tahun ini, hujan sama sekali belum pernah turun, sehingga padi yang siap panen akhirnya gagal, karena terjadi kekeringan,’’

 dari sekian petak sawah, memang ada yang masih bisa diselamatkan dengan memanfaatkan air yang yang ditarik dari anak sungai di Polewali dengan menggunakan mesin pompa. Itupun harus antre menunggu giliran.Sementara itu petani asal Desa Polewali menyatakan, dia bersama keluarganya hanya bisa pasrah melihat padinya mengalami kekeringan sebelum tiba saatnya dipanen. “Sebagian yang masih hijau, terpaksa kami jadikan makanan ternak, daripada mati sia-sia,’’ Akibat gagal panen karena kemarau panjang sejak empat bulan terakhir tak membuat warga pedesaan di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kehilangan cara mengatasi kekurangan pangan.Tumbuhan umbi beracun yang akrab dikenal dengan sebutan undo dimanfaatkan warga menjadi sumber pangan alternatif.

Warga yang mengonsumsi umbi beracun ini berasal dari lingkungan Tirondo, Kelurahan Sulewatang, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar.Mereka mengonsumsi undo yang tumbuh liar di tengah hutan karena mereka kekurangan beras akibat gagal panen. Sementara tanaman perkebunan seperti kakao, duku dan rambutan yang selama ini ikut menopang sumber pendapatan warga, juga tak bisa diharapkan karena mati kekeringan.Berbekal parang dan linggis, setiap hari warga mencari undo hingga ke pegunungan dengan berjalan kaki sejauh lima kilometer dari perkampungan mereka. Warga biasanya berangkat mulai pukul 7.00 dan pulang menjelang petang.