Menwa Harus Teladani Sjafruddin Prawinegara

Diterbitkan oleh pada Senin, 22 Februari 2016 14:52 WIB dengan kategori Suara Mahasiswa dan sudah 1.066 kali ditampilkan

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid resmi menutup Sosialisasi Empat Pilar MPR dengan metode Pendidikan Kebangsaan/Bela Negara di kalangan Resimen Mahasiswa (Menwa) Indonesia se-Jakarta, Minggu malam (22/2). Sosialisasi yang berlangsung selama tiga hari ini bertempat di Tangerang, Banten.



Ikut hadir dalam acara penutupan, Anggota MPR dari Kelompok DPD Setyawati Ayus, Anggota MPR dari Fraksi Gerindra Reza Patria, dan Anggota MPR dari Fraksi PKB M. Toha.

Dalam sambutannya, Hidayat mengatakan, sosialisasi dengan metode Bela Negara memiliki makna yang sangat dalam.  Karena memiliki hubungan dengan sejarah Indonesia. Yaitu, Hari Bela Negara yang diperingati setiap 19 Desember.

Peringatan Hari Bela Negara yang dilakukan setiap 19 Desember, dilaksanakan untuk mengingat kembali diproklamirkannya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara pada 19 Desember 1948 di Bukit Tinggi. Berdirinya PDRI yang disiarkan melalui radio, berhasil mematahkan klaim Belanda yang mengatakan bahwa Indonesia telah mati.

Anggapan tersebut disampaikan penjajah Belanda karena mereka berhasil menangkap dan memenjarakan para pemimpin Indonesia. Dan mampu menguasai Ibukota Indonesia, yang saat itu telah berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta.

"Karena disiarkan melalui radio, akhirnya PBB mendengar tetap tegaknya Indonesia, mereka mengakui Indonesia dan menolak klaim Belanda," kata Hidayat menambahkan, seperti dalam rilis Humas MPR sesaat lalu.

Apa yang dilakukan Mr. Syafrudin, lanjut Hidayat, seharusnya diteladani para mahasiswa termasuk Menwa. Apalagi seperti mahasiswa, Syafrudin juga seorang cendekia, beliau sosok pejuang yang cerdas dan berani mengambil risiko. Karena itu sudah seharusnya bila para mahasiswa meniru dan meneruskan keberanian yang ditunjukkannya. [RMOL/rus]